Sunday, August 27, 2006
Pilihan
Akhirnya sambil membersihkan taman kami mendiskusikan tentang menjalani kehidupan adalah membuat pilihan. Setiap manusia berkuasa untuk menentukan pilihan atas setiap tindakannya masing-masing. Manusia dapat memilih senang dan gembira atau memilih susah dan sedih. Setiap pilihan, baik itu yang positif maupun yang negatif, senang maupun susah, akan ada kewajiban dan konsekuensinya.
Memilih untuk memiliki rumah adalah kesenangan, tetapi ada kewajiban untuk memelihara, membayarkan pajak, mengisi dengan perabotan dsb. Memiliki rumah adalah juga kerepotan/kesusahan karena harus memenuhi kewajiban pajaknya, memelihara dan mengisi dengan perabotan.
Memilih untuk memiliki anak adalah kesenangan, tetapi ada kewajiban untuk melindungi dan memelihara hingga tumbuh menjadi manusia berguna. Memiliki anak adalah juga kerepotan/kesusahan karena ada kewajiban untuk melindungi dan memelihara hingga tumbuh dewasa.
Dan masih banyak contoh pilihan hal-hal lainnya yang bisa menjadi sebuah kesenangan atau sebuah kerepotan. Itu adalah pilihan masing-masing individu.
Jika memilih ‘susah/repot’, kewajiban dan konsekuensinya sama dengan yang memilih ‘senang’, pastilah kita akan selalu memilih senang. Tetapi seringkali masalah pilihan ini tidak jelas dan tidak otomatis dapat diketahui. Terkadang sesuatu yang kelihatannya senang pada awalnya tetapi mendapati kesusahan diakhirnya. Seperti misalnya bila anak-anak dibiarkan dengan kesenangannya nonton televisi sepanjang hari, pada saat dewasa menjadi kurang produktif, dan akhirnya hidup menjadi beban buat dirinya dan orang lain.
Terkadang pula hal-hal yang diawalnya terasa sulit dan menyakitkan tetapi pada akhirnya akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan lebih menyenangkan. Seperti misalnya saat berlatih menari, pada awalnya, untuk melakukan olah tubuh dan mempunyai insting penari dibutuhkan latihan keras yang membuat badan pegal, capek dan stress. Tetapi setelah melalui beberapa bulan latihan yang baik, tarian yang dibawakan menjadi luwes dan menarik. Selain itu mentalpun menjadi terasah lebih baik dalam menghadapi tekanan.
Mengutip pemikiran para tokoh besar dunia : upayakan untuk selalu berpikir positif, karena apa yang kita pikirkan dan gambarkan dalam pikiran kita, lebih sering itulah yang akan terwujud. What you think is what you get. -sugianto-
Tuesday, August 15, 2006
Gaji PNS
Terlepas dari pro dan kontra atas kenaikan gaji tersebut, sesungguhnya elemen gaji, walaupun bukan segalanya, akan menentukan kualitas pegawai yang berkiprah di dalamnya.
Tengoklah saat diadakan penerimaan calon PNS. Ribuan orang melamar untuk menjadi PNS, tetapi dari ribuan calon itu, berapa banyak yang berkualitas unggul ? Dalam kenyataannya mereka yang bertarung memperjuangkan status PNS lebih banyak (tidak semua) yang telah tersisih dalam kompetisi di dunia swasta atau mereka yang memang menghendaki kehidupan yang adem ayem tanpa kompetisi karier walaupun gaji pas-pasan.
Mengapa orang-orang dengan kualitas itu yang mayoritas menghendaki status PNS ? Karena orang-orang dengan kualitas unggul tentu tidak mau memasuki sebuah pekerjaan dengan gaji rendah dan iklim kompetisi karier yang tidak sehat. Mereka menyadari bahwa kualitas mereka layak mendapatkan gaji tinggi dan kompetisi yang fair. Mereka selalu berorientasi bahwa prestasi akan menentukan karier dan besaran gaji.
Di departemen tertentu kompetisi yang fair mulai dilaksanakan walaupun dengan intensitas yang masih rendah. Kompetisi karier yang fair masih terhambat beberapa kendala peraturan lama yang berlaku di PNS seperti senioritas, kenaikan golongan yang hanya berdasarkan lamanya bekerja dan pemecatan yang hampir mustahil dilaksanakan bila hanya karena alasan kinerja buruk dan tentu saja karena gaji yang rendah.
Beberapa karyawan di departemen tertentu termotifasi secara individu untuk berprestasi dan meningkatkan kompetensinya karena di departemennya mulai menerapkan kompetisi yang fair dan tentunya karena ada insentif tunjangan finansial yang lebih besar.
Agar orientasi prestasi dan peningkatan kompetensi karyawan tidak tergantung hanya dari kemauan individu, perlu diadakan mekanisme baru dalam struktur gaji, struktur kepangkatan serta promosi yang lebih mengakomodir prestasi dan kompetensi. Sehingga setiap karyawan akan dipaksa meningkatkan prestasi dan kompetensinya untuk mendapatkan promosi ke karier yang lebih tinggi dan gaji yang lebih besar.
Model jabatan fungsional sebagian PNS, secara konsep diatas kertas, merupakan rintisan kearah kompetisi yang fair. Tetapi dalam pelaksanaannya masih banyak kendala yang memerlukan penyempunaan dalam segi aturan main dan tentunya tunjangan finansial sebagai insentifnya.
Bila struktur gaji PNS sudah “layak” dan model kompetisi karier telah fair, otomatis putra-putra terbaik bangsa akan berlomba-lomba pula melamar menjadi PNS. Bila para PNS terdiri dari putra-putra terbaik bangsa, otomatis pelayanan publik yang menjadi inti pekerjaan PNS akan menjadi semakin baik. Dan pada akhirnya membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kompetitif pula di percaturan global. -antz-
Sunday, August 13, 2006
Kemerdekaan Indonesia dan standar minimal
Saat ini, hari kemerdekaan Republik Indonesia diperingati dengan upacara bendera, pesta rakyat, olah raga bersama, memasang umbul-umbul dan bendera di jalan-jalan atau rumah-rumah penduduk, dan untuk kalangan diplomat ada resepsi diplomatik. Semuanya bermuara untuk tujuan yang sangat mulia dari sebuah peringatan hari Nasional bangsanya.
Setelah 61 tahun sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia, bangsa Indonesia telah mengalami berbagai kemajuan fisik yang sangat pesat. Namun kemajuan mentalitas sebagai bangsa besar yang telah merdeka masih perlu terus diperjuangkan.
Salah satu perjuangan mengangkat mentalitas bangsa Indonesia telah diperlihatkan melalui ketegasan Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan tetap memberlakukan standar ujian nasional sebagai mutu pendidikan dengan nilai minimal 4,5 di tahun 2006 dan nilai minimal 5 di tahun 2007. Bila siswa-siswa tidak dapat melewati nilai standar tersebut maka siswa tersebut harus mengulangi belajarnya hingga mencapai nilai standar minimal itu dan bukan dengan menurunkan standarnya sehingga bisa dilewati oleh semua siswa.
Dengan skala 1 sampai dengan 10, sesungguhnya standar nilai minimal 5 sangatlah kecil karena bila diterjemahkan dengan kata-kata berarti kurang dari cukup. Walaupun begitu protes dari berbagai kalangan dan komponen masyarakat sangat banyak. Apakah mereka menghendaki standar nilai minimal 0 (nol) ? Bila benar begitu, buat apa susah payah menyelenggarakan berbagai ujian, tes dan seleksi disekolah dari SD sampai Perguruan Tinggi ?
Tidak perlulah membandingkan dengan standar negara lain, cukup dengan pertimbangan akal sehat dan kemauan politik yang baik untuk kemajuan bersama, maka standar nilai minimal untuk berbagai ujian, tes dan seleksi perlu dilaksanakan dengan baik. Hal ini akan memberikan dampak sangat besar dalam perkembangan mentalitas bangsa Indonesia dikemudian hari. Sebab pengaruh negatif lebih cepat menyebar dari pengaruh positif. Seperti dalam hukum alam ini, menjadi miskin dan gagal tidak memerlukan energi dan usaha, tetapi menjadi sukses dan kaya memerlukan energi dan usaha.
Contoh kongkrit : seorang karyawan dengan kinerja dan prestasi buruk tetapi tetap mendapatkan promosi dan mendapatkan gaji tinggi disamakan dengan karyawan yang berprestasi akan memberikan contoh buruk buruk terhadap organisasi karena akan menumbuhkan sikap apatis karyawan yang berkinerja baik dan berprestasi. Iklim “baik atau buruk sama saja” membuat karyawan akan memilih yang paling ringan dan tidak memerlukan energi untuk mendapatkannya.
Begitu pula bila menurunkan syarat minimal kelulusan dalam proses seleksi hanya demi mengakomodir orang-orang tertentu yang sesungguhnya sudah tidak mampu lagi untuk pekerjaan tertentu dengan berbagai alasan akan membuat oragnisasi dalam lampu merah.
Dalam dunia pegawai negeri (PNS) sangat banyak dijumpai contoh seperti itu dan telah menjadi penyakit organisasi yang akut. Perlu terobosan besar dan keberanian pemimpin organisasi untuk dapat melepaskan diri dari penyakit ini.
Majulah Indonesia………
Merdeka !!!
Saturday, August 05, 2006
Kriptografer instant
Willy Sahaeta, kriptografer dari Umbria, menanyakan mengenai fenomena kriptografer instant yang saat ini banyak berkiprah di posisi-posisi penting profesi kriptografi. Hal ini menurut Willy dalam jangka panjang akan merusak profesi kriptografer secara keseluruhan.
Willy mencontohkan bahwa saat terjadi pergeseran posisi sistem transmisi kripto, lebih dari sepuluh temannya yang semuanya dikategorikan oleh Willy adalah kriptografer instant, bertanya kepadanya. Walaupun Willy dengan suka rela menjelaskan, tetapi ketidak-mengertian dan ketidak-pahaman mereka pada pekerjaan pokok dan dasar sebagai seorang kriptografer sangatlah mengherankan dan sulit diterima secara nalar. Tidak terbayangkan apabila mereka mendapat pekerjaan (sebagai kriptografer) yang membutuhkan pemikiran lebih rumit, strategis atau taktis.
Willy mengibaratkan seperti seorang sopir yang mempunyai SIM (dengan cara instant), bekerja sebagai sopir, kemudian tidak dapat mengendarai mobil dengan baik. Sopir tersebut tidak mengerti bagaimana pindah persnelling, tidak mengerti menyalakan lampu sign. Mendengar hal itu para peserta lain bertepuk tangan dan tertawa.
Moderator Romi Sukaryo menjelaskan bahwa yang dimaksud kriptografer instant oleh Willy adalah para kriptografer yang dididik sekitar 6 bulan saja. Sehingga pemahamannya dalam pengamanan informasi dan kriptografi masih perlu ditingkatkan.
Dadang Made Sitanggang, sebagai salah seorang yang juga ikut terlibat dalam keputusan pelatihan kriptografer jenis ini (yang disebut instant), menjelaskan bahwa pada mulanya pendidikan dan pelatihan kriptografer ini dirancang untuk tiga tahapan, (1) pendidikan tahap pertama selama 6 bulan; (2) magang/bekerja di bagian kripto selama minimal 1 tahun; (3) pendidikan dan pelatihan tahap kedua selama 6 bulan.
Setelah lulus dari tahap kedua ini, mereka masih perlu bekerja dahulu di bagian kripto instansi pusat selama 2 tahun, selain sebagai pembinaan dari yang lebih senior juga untuk lebih memantapkan kemampuannya. Setelah itu barulah mereka bisa dilepas sebagai kriptografer mandiri.
Bila saat ini mereka yang baru mendapatkan pendidikan tahap pertama kemudian dianggap telah menjadi seorang kriptografer mandiri, maka ini perupakan pemahaman yang keliru. Dan memang bisa dimengerti bila akhirnya banyak kriptografer (instant) ini yang tidak memahami tugas-tugas pokok kriptografer.
Selain itu memang benar pemikiran saudara Willy bahwa pemahaman mengenai keamanan informasi dan kriptografi yang minim akan menjadi bumerang pada profesi kriptografer secara keseluruhan di instansi yang mempekerjakannya.
Mendengar pertanyaan dan penjelasan di sesi ini, Johan jadi teringat saat restrukturisasi di departemennya dulu. Saat itu karena keterpaksaan, Johan meminta stafnya untuk pindah jalur dengan meningkatkan status mereka menjadi kriptografer. Walaupun Johan telah diberitahu oleh pihak pendidikan bahwa banyak diantara mereka sebetulnya tidak kompeten, tetapi karena “tuntutan keadaan” maka Johan memaksa (dengan berat hati) untuk tetap menjadikan mereka kriptografer (instant juga tidak apa-apa).
Setelah 5 tahun berlalu sejak pertama kalinya para kriptografer (yang disebut instant) berkiprah di organisasinya, Johan memang melihat banyak sekali “gejolak” di profesi kriptografer baik akibat stimulus internal maupun ekternal. Bukan gejolak karena dinamika positif perubahan organisasi tetapi gejolak seperti yang dicontohkan oleh Willy. -antz-
Wednesday, August 02, 2006
Menuju spesialis
Dari pencarian itu dan juga atas saran senior saya di Akademi yang sangat perhatian (bukan prihatin loh) dengan kemajuan kriptografi di Indonesia, saya berniat untuk membuat web blog khusus kriptografi. Begitu saya niatkan untuk bikin web blog yang khusus, berarti saya juga harus menjadi spesialis. Ternyata untuk menjadi spesialis tidak mudah, banyak bacaan harus saya baca dan banyak materi harus saya pelajari, dan yang terpenting saya harus lekat dengan praktek kriptografi itu sendiri.
untuk menuju spesialis
langkah pertama harus diayunkan
jangan hirau aral menghadang
siapa tahu diujung jalan ada keceriaan.
http://hadiwibowo.wordpress.com/
-antz-
Friday, July 28, 2006
Anak-anak adalah masa depan kita

I believe the children are our future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier
Let the children's laughter remind us how we used to be
Everybody's searching for a hero
People need someone to look up to
I never found anyone who fulfilled my needs
A lonely place to be
So I learned to depend on me ……
Bait pertamanya sangat cocok sebagai peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh pada tgl 23 Juli lalu. HAN diperingati di Indonesia dengan tema “Sehari Tanpa TV.”
Kampanye yang sangat baik bagi perkembangan mental anak-anak, mudah-mudahan bisa berhari-hari tanpa tv.
Televisi memang salah satu teknologi yang sangat potensial membentuk opini, karakter, dan budaya masyarakat dengan sangat cepat. Bila program yang ditayangkan positif maka akan terbentuk masyarakat yang positif, tetapi jika sebaliknya tentu akan sangat merugikan, dan anak-anak merupakan “korban” pertama yang sangat mudah terpengaruh acara televisi.
Program televisi yang buruk, bukan hanya monopoli televisi Indonesia, kami di Eropa juga mendapatkan banyak program televisi yang buruk. Bila kita membaca berita-berita dari berbagai negara, dapat ditarik kesimpulan bahwa program televisi lebih banyak efek buruknya daripada efek baiknya bila dikonsumsi oleh anak-anak.
Saya dan isteri termasuk jarang menonton televisi semenjak anak-anak, remaja hingga punya anak, sehingga anak-anak kamipun tidak terbiasa menonton televisi. Apalagi di Italia ini acara yang diperkirakan cocok untuk anak-anak ternyata diselipkan juga hal-hal yang “dewasa”, sehingga untuk amannya, matikan saja televisi.
Dengan tidak menonton televisi, anak-anak mempunyai banyak waktu untuk macam-macam aktivitas seperti menari, mengambar, menyanyi, bermain air atau bahkan mengobrak abrik tumpukan kertas, merusak benda-benda dan mainannya atau bermain di kebun saat musim panas hingga badannya gatal-gatal digigit nyamuk.
Bermain bagi anak-anak adalah belajar. Belajar secara natural akan menuntun anak tersebut menuju “jalannya” sendiri. Sehingga anak-anak akan tumbuh besar menjadi dirinya sendiri dan mandiri. ****antz****
Thursday, July 27, 2006
Sertifikasi kompetensi
Kriptografer dari Torino, Batista Hasibuan, menanyakan mengapa perlu secara periodik dilakukan sertifikasi ulang bagi profesional kripto.
Dadang Made Sitanggang, pembicara kedua, mencontohkan bahwa pada kenyataannya seorang kriptografer yang lulus akademi tahun 1991 bila tidak melakukan pembelajaran sendiri secara terus-menerus pasti secara keilmuan akan jauh tertinggal dari mereka yang lulus tahun 2004. Kemudian lanjut Dadang, bahwa sesungguhnya bukan sertifikasi ulang profesional kripto, tetapi yang dimaksud adalah sertifikasi kompetensi, semacam pendidikan dan pelatihan penjenjangan yang terorganisir.
Lebih lanjut Dadang menjelaskan bahwa pendidikan dan pelatihan penjejangan akan memberikan arah yang jelas bagi para kriptografer dalam meningkatkan kompetensinya, disamping tentunya perlu melakukan pembelajaran sendiri secara terus-menerus. Bila pendidikan dan pelatihan penjenjangan tersebut tidak diorganisir, maka kompetensi kriptografer dalam satu tingkatan kriptografer menjadi tidak dapat diukur. Tingkatan kriptografer menjadi tidak mencerminkan kompetensi dari kriptografer, karena akan tergantung dari pembelajaran secara mandiri individu tersebut.
Penanya kedua, Randy Macapagal, seorang kriptografer dari Sicilia menyatakan bahwa walaupun seorang kriptografer telah melakukan pembelajaran secara mandiri sehingga memiliki kompetensi yang lebih baik, akan tetap dihargai “segini” saja. Jadi buat apa bersusah payah melakukan pembelajaran kalau hasilnya sama saja dengan yang cuek.
Pernyataan Randi didukung oleh Orton Sukesah, kriptografer dari Trieste, yang menyatakan bahwa dirinya sebentar lagi akan pensiun, jadi buat apa bersusah payah meningkatkan kompetensi, toh tidak banyak gunanya. “Saya sudah hampir pensiun juga gini-gini saja” timpalnya.
Moderator Romi Sukaryo merasa perlu menjelaskan bahwa yang dimaksud “segini saja” oleh Randi Macapagal dan Orton Sukesah adalah kriptografer yang bekerja di Kementerian Antar Negara (Kemane). Yang mana para kriptografer yang bekerja di Kemane merupakan para petugas kripto yang saat ini statusnya adalah staf non diplomatik, sehingga tidak memungkinkan peningkatan karir di jenjang struktural lebih tinggi.
Menanggapi pernyataan itu Dadang, direktur Sekolah Tinggi Kriptologi Bandung, hanya tersenyum. Sebagai seorang pakar pendidikan, Dadang paham betul bahwa pendidikan dan pelatihan hanya dapat berguna bila ada semangat belajar “dari dalam” diri seseorang. Pendidikan dan pelatihan tidak dapat dipaksakan dari luar, seperti halnya semangat untuk maju.
Setelah terdiam beberapa saat Dadang menanggapi bahwa angin perubahan kadang bertiup kearah yang tidak terduga. Yang dapat kita lakukan hanyalah mempersiapkan diri bila sewaktu-waktu angin perubahan menyapa kita.
Sebelum berpindah ke penanya berikutnya, Dadangpun mengutip sebuah filosofi “what you think is what you get”, usahakan setiap hari berpikir positif agar mendapatkan hasil yang positif. ***antz***
Thursday, July 20, 2006
Pendidikan kripto berkelanjutan
Dalam makalahnya, beliau mengutarakan bahwa tuntutan kompetisi yang sangat tinggi sekarang ini membutuhkan pelatihan dan pendidikan yang berkelanjutan dari para kriptografer di Indonesia. Secara khusus menjadi sangat penting diperhatikan karena profesi kripto merupakan profesi yang tertentu (ceruk yang kecil). Bahkan kemajuan teknologi informatika dan komunikasi, walaupun tidak akan mengeliminir profesi kripto yang lebih tinggi levelnya, dapat menjadi substitusi profesi operator kripto.
Prinsip belajar terus-menerus secara berkelanjutan menjadi kebutuhan mutlak bagi profesional kripto yang ingin terus tetap eksis dalam perubahan akibat kemajuan ilmu dan teknologi informatika dan komputer, terang Dadang.
Lebih lanjut Dadang menjelaskan beberapa prinsip dari pendidikan kripto berkelanjutan yaitu :
1. Peningkatan kompetensi berkelanjutan.
Kompetensi seseorang merupakan kemampuan untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan perkembangan trend yang dari waktu ke waktu terus berkembang.
Bahkan sertifikasi kompetensi seseorang juga perlu diperbarui secara periodik dan senantiasa mengupayakan naik ke jenjang kompetensi yang lebih tinggi. Oleh karenanya pelatihan dan pendidikan seharusnya dilakukan dengan prinsip belajar terus menerus dalam rangka meningkatkan kompetensi secara berkelanjutan.
2. Tidak ada kata terlambat
Belajar di bangku SD dimulai paling cepat pada umur 6 tahun. Tetapi tidak ada batasan 'paling lambat' kapan seseorang mulai belajar. Demikian juga dalam mengikuti pendidikan dan pelatihan kripto. Seringkali kesempatan mengikuti pelatihan dan pendidikan dengan modul tertentu baru bisa terbuka setelah sekian tahun bekerja, karena faktor pemerataan pemberian kesempatan dan sesuai dengan jenjang karier yang dicapai seseorang. Dalam situasi seperti ini memulai belajar dengan mengikuti pelatihan dan pendidikan pada usia berapapun dapat tetap dinikmati dan disyukuri. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Lebih baik terlambat daripada tidak pernah. Never too old to learn.
3. Mengejar kemajuan teknologi
Perkembangan teknologi berjalan dengan percepatan lebih besar dalam beberapa tahun terakhir ini. Kalau terlambat mengikuti perkembangan, bisa jadi akan tidak mampu bersaing dengan orang lain dan berdampak pada menurunnya kinerja dan prestasi. Hanya dengan prinsip belajar berkelanjutan yang terus menerus, ketertinggalan tersebut bisa dikejar. Dan hal demikian juga berarti bahwa tidak bisa seluruh pengetahuan dan teknologi hendak dikuasai sepenuhnya dalam satu masa pembelajaran. Harus dilakukan pembaruan secara berkelanjutan.
4. Belajar aplikatif
Banyak cerita 'miring' mengatakan bahwa mahasiswa yang 'terlalu banyak belajar' umumnya akan jadi 'pemikir tulen' yang hanya terus menerus berpikir tanpa peduli pada hasil pemikirannya. Dan hasilnya hanya pemikiran untuk dipikir kembali.
Tentu saja gaya belajar seperti ini tidak praktis. Dan karenanya diperlukan proses belajar aplikatif yang memadukan pengetahuan dan kepraktisan. Dan karena memadukan keduanya seringkali tidak mudah, tidak heran banyak proses belajar yang hanya menghasilkan 'orang pintar'.
Dalam konteks seperti ini, belajar ketika sudah tidak muda lagi merupakan proses pembelajaran yang lebih efektif. Dan hal demikian banyak ditemukan di program pendidikan kelas eksekutif yang pesertanya sudah banyak berpengalaman di pekerjaan riil. Jadi, belajar ketika 'tidak muda lagi' tidak perlu disesali, bahkan perlu disyukuri.
5. Belajar dengan melakukan
Eksekutif dan profesional sekarang ini tidak 'doyan' dengan pelatihan yang terlalu konseptual teoritis. Kalau mau yang konseptual teoritis, tempat belajarnya di kampus.
Tempat terbaik untuk belajar dengan prinsip belajar dengan melakukan adalah di tempat kerja. Dan itu bisa dilakukan kapanpun juga. Bahkan semakin senior seseorang, maka kesempatan untuk belajar dengan melakukan juga semakin besar.
Sebagai penutup Dadang menyimpulkan bahwa kesemua prinsip belajar terus menerus di atas terbukti lebih efektif diberlakukan di 'tempat belajar' dunia nyata. Terkahir, belajar sambil rekreasi juga memungkinkan berjalannya prinsip belajar terus menerus.
Moderator Romi Sukaryo kemudian mempersilahkan peserta seminar imajiner untuk bertanya. Silahkan ***antz***
Wednesday, July 19, 2006
Gempa akibat mistik
Pietro tak mengerti mengapa di jaman teknologi informasi dan komunikasi ini masih banyak yang menganut paham animisme. Paham mistis yang biasanya dianut oleh orang-orang “jaman batu” dan belum mengenal sekolah.
Dalam pikiran Pietro, bencana alam ini adalah akibat pergerakan kulit bumi. Gerakan kulit bumi yang melepaskan energi itulah yang mengakibatkan gempa. Bila pusat gempa berada di laut maka akan mengakibatkan “riak” air laut yang disebut gelombang. Bila gelombang itu besar dan merambat ke daratan, maka disebutlah tsunami.
Gerakan kulit bumi ini akan terus berlangsung dan “tumbukan” antar kulit bumi ini akan terjadi dalam setiap periode tertentu. Sehingga siapapun Presiden Indonesia yang bertugas, bila sudah saatnya kulit bumi “bertumbukan”, maka gempa pun tetap terjadi.
Yang perlu dilakukan saat ini adalah memprediksi kemungkinan munculnya gempa dan akibat yang ditimbulkannya sehingga kita dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengantisipasinya. Selain itu Pietro percaya bahwa Alloh tidak akan menguji kita diluar batas kemampuan kita menanggungnya. ***antz***
Sunday, July 16, 2006
Membombardir dengan informasi
Setelah melihat-lihat Basilica Santo Pietro, Castel Sant’ Angelo, Fontana di Trevi, Monumento Vittorio Emmanuelle II, Colosseo, Foro Romano dan Circo Massimo, Johan sangat kagum betapa dahsyat Italia membombardir calon wisatawan dengan informasi yang diciptakannya. Pasalnya Circo Massimo yang digambarkan sangat indah di buklet wisata, ternyata secara fisik hanyalah hamparan tanah kosong yang dipagari.
Jadi Johan dibawa ke tanah kosong tersebut dan diceritakan bahwa dulunya ditempat ini selalu diadakan adu menunggang kereta kuda seperti di film Ben Hur. Sebuah wisata “imajiner” ! Belum lagi mitos membuang uang di Fontana di Trevi yang katanya dapat membuat sang pelempar uang tersebut suatu suatu hari nanti dapat kembali lagi ke Italia, dimana dalam sehari uang yang dikumpulkan di kolam Trevi tersebut pernah mencapai € 300,-
Johan paham betul teknik perang informasi. Sehingga menciptakan informasi tertentu dan menyebarkan dengan tepat akan membuat orang-orang mempercayainya. Walaupun kenyataannya tidak terlalu hebat, tetapi bila dalam pikiran orang tersebut kehebatan sudah tertanam maka “pandangan” yang keluar adalah kehebatan seperti yang telah tertanam di pikirannya.
Lebih luas Johan juga melihat bahwa pandangan dunia telah disopiri oleh CNN, CNBC, Herald Tribun, Times dan lain sebagainya. Hampir tak menyisakan untuk “pandangan seperti apa adanya”. Televisi, koran, buku-buku dan internet telah menjadi senjata untuk mengukuhkan kepentingan.
Di tanah air, terlihat sekali bahwa televisi telah menjadi senjata ampuh untuk mengubah gaya hidup orang Indonesia. Saat televisi berlomba-lomba menayangkan acara mistik, maka sebagian besar rakyat Indonesia hidup dalam dunia gaib. Kemudian saat acara infotainmen membombardir pemirsa, maka sebagian besar rakyat Indonesia hidup dalam dunia sinetron.
Dalam perjalanan pulang di pesawat, Johan mulai merancang untuk menciptakan informasi dan menyebarkannya dengan tepat sehingga diharapkan dapat membuat organisasinya terus eksis dalam setiap perubahan. ***antz***



