Saturday, May 05, 2007

Berkah dibalik musibah

Indonesia dalam tahun-tahun belakangan ini didera berbagai musibah, namun bila bangsa Indonesia sanggup melihat berkah dari setiap musibah, tentunya kesuksesan sudah menanti.

Cerita yang saya copy dari Bisnis Indonesia yang ditulis oleh Lisa Nuryanti seorang Managing Director Expands Consulting & Training Specialist yang berjudul Blessing in disguise, akan menjadi cerita yang baik untuk disampaikan.

Alkisah ada seorang pria buta huruf yang bekerja sebagai penjaga sebuah gereja di Amerika Serikat. Sudah sekitar 20 tahun dia bekerja di sana. Suatu hari pemimpin gereja itu dipindahkan ke tempat lain dan digantikan oleh pemimpin baru.

Pemimpin baru ini menerapkan aturan baru. Semua pekerja harus bisa membaca dan menulis agar mereka bisa mengerti pengumuman yang ditempel di papan pengumuman. Penjaga yang buta huruf itu terpaksa tidak bisa bekerja lagi.

Dia sangat sedih dan berjalan pulang dengan lemas. Dia tidak berani langsung pulang ke rumah, tidak berani langsung memberitahu isterinya. Dengan sedih dia berjalan pelan menelusuri jalanan.

Setelah hari gelap sampailah dia di sekitar pelabuhan. Dia pun ingin membeli tembakau. Tapi setelah mencari kemana-mana, setelah mengelilingi beberapa blok, tidak ada satu toko pun yang menjual tembakau. Tiba-tiba, dia berfikir "Tembakau sangat perlu. Tapi di sekitar sini tak ada yang jual tembakau. Aku ingin jualan tembakau saja ah."

Dia pun pulang, lalu dengan penuh semangat menceritakan idenya untuk berjualan tembakau kepada isterinya. Dia tidak lagi menyesali nasibnya yang baru saja kehilangan pekerjaan. Kemudian dia pun membuka kios tembakau. Ternyata tembakaunya laku keras.

Tak berapa lama, dia bisa membuka toko tembakau. Beberapa tahun kemudian dia bisa membuka beberapa cabang toko tembakau di tempat lain. Jadilah dia pedagang tembakau sukses.

Ketika sudah jadi orang kaya, dia pun pergi ke bank untuk membuka rekening. Tapi karena buta huruf, maka dia tidak bisa mengisi formulir. Karyawan bank berkata "Wah, Bapak yang buta huruf saja bisa punya uang sebanyak ini, apalagi kalau Bapak bisa membaca dan menulis, Bapak pasti lebih kaya lagi." Dengan tersenyum dia berkata "Kalau saya bisa membaca dan menulis, saya pasti masih menjadi penjaga gereja."

Waktu dia dipecat, dia merasa sedih, putus asa, dan mungkin menyesali kejadian itu. Peristiwa itu merupakan musibah. Tapi kini, dia bisa melihat bahwa mungkin nasibnya tidak akan berubah menjadi seperti sekarang kalau dulu dia tidak dipecat.

Apa yang dulu merupakan musibah, ternyata kini mendatangkan keberuntungan, menjadi berkah. Mari kita mencoba bersabar dan tabah dalam menghadapi apapun. Berdoa supaya bisa melihat berkah di balik musibah. Do not give up! See the blessings in disguise!

-antz-

Sunday, April 22, 2007

Nostalgia IPDN

Sudah berhari-hari jadi berita nasional, tapi baru liat di youtube.com kekerasan di IPDN.

Gawat juga ya kalau pukulan dan tendangan jadi menu sehari-hari. Tentunya kekerasan dalam pendidikan akan berimbas pada pekerjaan nantinya. Pekerjaan akan dilakukan (sadar atau tidak) dengan aroma kekerasan. Aroma kekerasan ini bisa memang fisik bisa juga kekerasan mental dan jiwa.

Jadi inget dulu tahun 1988 waktu saya disuruh ortu cari sekolah. Waktu itu, di Bandung memang cukup ngetop tuh APDN. Temen-temen banyak yang nyaranin saya ke sana. Padahal temen saya itu gak daftar ke APDN. Maklum dulu saya memang mencari sekolah gratis.

Saya hampir saja menuju kesana, tapi pas denger sekolah itu pake seragam, saya gak jadi. Saat itu saya benci sekolah tinggi berseragam.

Saya akhirnya malah mampir di rumah kos sahabat saya, dan dia ngajak saya ke sebuah sekolah gratis yang masih misterius, daftarnya di jl. Latuharhari Jakarta.

Gak kebayang apa jadinya ya….. seandainya dulu daftar dan masuk ke APDN….

Jangan-jangan (ge-er nih) tahun itu saya jadi headline koran karena “tumbang” saat dikasih “menu harian” ...... hik….hik….hik….., sebab "menu harian"-nya sedahsyat pukulan dan tendangan preman yang lagi gebukin maling HP di Pasar Tanah Abang, apalagi dulu badan saya kurus kering dengan berat hanya 49 kg. -antz-

Wednesday, April 04, 2007

Dialog imajiner di Hari Persandian RI

Pada hari yang cerah dengan suhu berkisar antara 18 – 20 derajat tanpa angin, tanggal 4 April yang merupakan hari Persandian RI, Johan mengundang kawan-kawan alumni Instituto Chriptografia untuk memperingati dan berdialog dalam suasana santai dengan topik yang cukup serius yaitu : Pendidikan dan sertifikasi berjenjang bagi para Kriptografer.

Kebetulan rumah Johan mempunyai halaman yang cukup luas dan ditumbuhi dengan pepohonan yang rindang sehingga memungkinkan peringatan Hari Persandian dilangsungkan sambil ber-BBQ memanggang ikan Orata, iga kambing dan paha ayam. Menu pendampingnya adalah gado-gado ala mbok Darmi di Tanah Abang.

Hadir memenuhi undangan Johan sekitar 50 orang kawannya, yang diantaranya telah menjabat di posisi-posisi penting pemerintahan.

Tepat jam 10.00 acara dibuka oleh Johan : Pertama-tama saya ucapkan terima kasih atas kehadiran kawan-kawan dalam Peringatan Hari Persandian RI ke-61 di rumah saya yang sederhana ini. Alasan saya menyelenggarakan peringatan ini adalah atas anjuran senior kita, Ascanio, yang saat ini telah menjabat sebagai direktur keamanan informasi di Badan Kerjasama Indonesia - Eropa.

Agar peringatan kita ini bermanfaat dengan memberikan sedikit sumbangan pikiran untuk kemajuan Persandian RI kita tercinta ini, maka dicetuskanlah acara dialog informal tentang pendidikan dan sertifikasi lanjutan bagi Kriptografer.

Seperti dirasakan bersama, ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi berkembang sangat pesat dalam hitungan waktu yang semakin singkat, sehingga mau tidak mau, ilmu yang pernah kita dapatkan menjadi cepat usang. Walaupun kita senantiasa belajar secara mandiri melalui berbagai literatur dan kasus demi kasus dalam pekerjaan kita, namun dalam lingkungan Kepegawaian di negeri kita, pendidikan dan sertifikasi keahlian yang bersifat formal masih diperlukan.

Untuk itu saya undang untuk berbicara, kawan kita, Tiberino, yang saat ini menjabat Direktur Pendidikan dan Pelatihan di Instituto Chiptografia. -antz-

Friday, March 30, 2007

Jam tangan bergambar Deng Xiao Ping


Ketika saya sedang mencari sebuah tas kecil (di rumah, bukan di pasar) yang kira-kira bisa dipakai untuk menyimpan dan membawa kabel-kabel, adaptor, pena usb, tustel, harddisk eksternal, dan lampu kecil untuk laptop, tidak sengaja saya temukan kembali sebuah jam tangan peninggalan Deng Xiao Ping yang saya beli dari pasar antik Tian Tan di Beijing tahun 1998. Rupanya jam itu, waktu itu, saya selipkan di saku tas kecil yang saya beli juga di sana.

Jam itu buatan Jepang, masih baik, hanya gelangnya sudah rusak. Dalam bak jam itu ada foto Deng Xiao Ping, tulisan kanji : Deng Xiao Ping Tong Zhi dan bendera China.

Kok bisa kebetulan ya….. abis nulis tentang Deng….. eeee ketemu jam yang bergambar Deng. -antz-

Saturday, March 24, 2007

Belajar dari negara lain

Ketika membuka Kompas online, dibagian kotak KoKi ada sebuah bait yang menggelitik, setelah saya klik, isinya memang hhhmmmm

Ini dia :

Dalam kunjungannya ke Singapura dibulan Nopember 1978, Deng Xiao Ping bertemu dengan Lee Kuan Yew. Kesan Lee : "Tinggi tubuh orang pendek ini hanya 4 kaki, tetapi Deng adalah seorang pemimpin besar".

Lee menyediakan sebuah PISPOT (tempat meludah dimana budaya jorok orang China kuno masih dianut oleh kebanyakan pemimpin China ketika itu) dan sebuah ASBAK (kebiasaan buruk merokok ditempat umum) didepan kursi Deng. Demikian pula pada resepsi makan malam bersama, Lee menyediakan juga Pispot dan Asbak. Yang mengejutkan, selama kunjungan itu Deng sama sekali tidak meludah maupun merokok, setidaknya didepan Lee dan para pembesar Singapura padahal Deng adalah perokok berat.

Kata Deng : "Ketika aku singgah di Singapura dalam perjalananku menuju Marseilles (Perancis) ditahun 1920 - Singapura adalah tempat kumuh. Anda telah mengubahnya menjadi indah seperti sekarang. Selamat !"

Jawab Lee : "Terima kasih. Apa yang kami bisa lakukan, kalian akan mampu lakukan lebih baik. Kami adalah keturunan imigran melarat dari China Selatan. Tetapi kalian memiliki para mandarin (birokrat), penulis, pemikir dan orang-orang berotak cemerlang. Kalian bisa melakukannya lebih baik".

Deng termenung memandang Lee tanpa berkata sepatahpun.

Namun dalam perjalanan keliling di propinsi China Selatan, Deng tidak sungkan atau malu, selalu berseru kepada rakyat China :
"BELAJARLAH DARI SINGAPURA !", "LAKUKANLAH LEBIH BAIK DARI MEREKA !".

(The personal Lee, Interview Time Asia)

Zev, saya mencuplik bagian ini untuk arsip di blog saya ya. Terima kasih.

Waktu saya datang ke kota Beijing, Cina di bulan Desember 1995, sesampai di bandara internasional kota itu, bandara tersebut masih jelek dan orang asing yang tidak bisa baca tulisan kanji bisa-bisa tersesat di dalam bandara.

Situasi kota Beijing masih seperti Kota Bandung tahun 1980-an. Jalan rayanya sudah lebar-lebar bahkan ada yang 10 jalur, namun sepi dari mobil yang lewat. Sesekali terlihat mobil mewah Mercedes S-600 milik petinggi partai melintas. Rambu-rambu lalu-lintas di jalan sulit ditemukan yang bertuliskan latin, hampir semuanya kanji. Sehingga orang asing yang tidak bisa membaca huruf kanji tentu bakal tersesat.

Sepeda model tahun 70-an masih sangat banyak dan juga gerobak yang ditarik keledai besar untuk mengangkut bahan pertanian.

Pada saat itu, mencari apartemen yang layak sangatlah sulit dan harga sewanya sangat mahal. Sehingga terpaksa mencari apartemen penduduk yang saat itu masih dilarang untuk disewakan ke orang asing. Saat itu masih dibedakan fasilitas untuk penduduk setempat dengan fasilitas untuk orang asing. Seperti KA, bioskop, apartemen, hotel, tempat konkow dll dengan harga 2 atau 3 kali lipat lebih mahal.

Berinteraksi dengan penduduk setempatpun harus menggunakan bahasa Mandarin, bahasa Inggris tidak dapat dipakai untuk berinteraksi dengan mereka.

Di samping kantor yang lama, sebelum dipindahkan yaitu di San Li Tun Da Jie ada pasar senggol disisi kanan jalan (sekarang pasar senggol itu telah dipindah) dan disisi kiri nya deretan café yang mulai marak bermunculan sekitar awal tahun 1997. Pasar senggol itu layaknya sebuah factory outlet di Bandung, barang bermerek terkenal mudah dijumpai, walaupun keasliannya tidak dijamin.

Tahun 1998 terjadi booming apartemen, sehingga saya dan keluarga bisa pindah dari apartemen penduduk yang apa adanya, ke apartemen yang layak, karena harga sewanya sudah dapat dijangkau.

Saat saya meninggalkan kota Beijing, di pertengahan tahun 2000, kota itu telah jauuuhhh berubah dari saat saya pertama kali menginjakkan kaki di situ. Jalanan sudah mulai macet karena jumlah kendaraan bermotor telah semakin banyak, bandara telah modern dan sangat bagus, gedung-gedung tinggi telah banyak dibangun dan penduduk setempat telah mulai mengenal huruf latin. Rambu lalulintas pun telah ditulis dalam dua tulisan, kanji dan latinnya (pin yin).

Deng Xiao Ping telah memberikan dasar-dasar perubahan China yang spektakuler yang kemudian dilanjutkan oleh Jiang Zhe Min bersama Li Peng (saat itu Presiden dan PM).

Terlepas dari kekuranga mereka, sangat pantas ditiru adalah komitmen para pemimpin itu dalam memajukan negara. Mereka memberi keteladanan yang sangat bagus terhadap apa yang ingin dicapainya.

Dalam kurun waktu itu saya menyaksikan komitmen dan teladan yang baik dari para pemimpin negara dalam memberantas budaya (yang katanya) jorok, mensosialisasikan tulisan latin (buku adalah jendela dunia, bahasa adalah pintunya), memasyarakatkan hidup sehat dan bersih, memberantas korupsi dll. Sehingga saat hari jadi China yang ke-50 (1 Oktober 1999), negara itu telah dikenal sebagai NAGA YANG TELAH BANGUN DARI TIDUR PANJANGNYA.

BELAJARLAH DARI NEGERI CHINA !, LAKUKANLAH LEBIH BAIK DARI MEREKA !, mungkin suatu ketika akan diserukan oleh Presiden RI (entah siapa), sehingga suatu ketika (juga) INDONESIA GEMAH RIPAH LOH JINAWI akan menjadi kenyataan. -antz-

Monday, March 19, 2007

Damai di dunia


Bila ingin damai, bersiaplah untuk berperang !
Bila ingin berperang, bersiaplah untuk damai !
Ingin hidup aman dan tenteram, perkuatlah pertahanan dan keamanan.

Sunday, March 11, 2007

Banyak acara tapi kosong

Many channels but nothing to watch, itulah yang diungkapkan oleh para pengamat TV di dunia. Tentu masih teringat 3 dekade lalu saat saluran TV hanya ada satu, sehingga ketika program acara yang ditawarkan tidak kita sukai maka pilihannya adalah matikan TV.

Kini di era HDTV dan TV flat, saluran TV dari berbagai Perusahaan siaran TV sangat banyak dan beragam. Sehingga pilihan acaranya pun sangat banyak, tidak lagi ditonton atau dimatikan. Namun dari sekian banyak pilihan acara, hampir semuanya bermuara pada acara yang dikemas dengan bentuk hiburan yang “kosong”.

Dan dari hasil rating acara TV, memang acara yang dikemas sebagai hiburan kosong lah yang paling digemari. Siaran Berita yang digemari adalah berita kriminal yang sangat detail atau informasi para selebritis yang sedang dilanda kekacauan hidup atau berita negatif lainnya. Talk Show yang digemari adalah talk show yang tidak serius. Kuiz yang digemari adalah kuiz yang ringan dengan hadiah spektakuler, dan sebagainya

Acara hiburan yang ditampilkan serius seperti konser, acara pendidikan, berita pembangunan atau hal-hal positif, memperoleh rating sangat kecil alias tidak digemari pemirsa.

Mencermati fenomena tersebut, tentunya nasehat Dale Carnegie sangat bermanfaat : “bila anda ingin sukses, langkah pertama adalah matikan TV”. -antz-

Tuesday, March 06, 2007

Satria berkuda



Gambar patung ini mengingatkan saya dengan film Benhur. Film tentang seorang satria jujur melawan satria curang (gaya cerita klasik). Mereka berlomba (atau bertempur ya ?) di lapangan yang disebut Circo Massimo. -antz-

Thursday, February 08, 2007

Keputusan aneh

Brondi, kolega Johan yang bertugas di Valetta baru tiba di Roma untuk liburan selama 4 hari. Brondi adalah temannya satu angkatan saat kuliah dulu, sehingga keluarga Brondi dan keluarga Johan cukup akrab.

Saat makan malam di Hard Rock café Roma, Brondi mengeluh bahwa di kantornya akhir-akhir ini banyak sekali peraturan baru yang aneh-aneh, sehingga bukannya meningkatkan prestasi kerja tetapi malah menimbulkan banyak permasalahan.

Salah satu yang dicontohkan Brondi adalah masalah perubahan jam kerja. Dahulu masuk kerja adalah 8.30, istirahat 12.30 dan pulang 16.30. Namun sekarang semuanya dimundurkan 30 menit. “Tidak apa-apa sih, gak ngaruh !” “Tapi alasannya itu lho yang aneh” begitu cerita Brondi.

Ini alasannya : para pegawai memang datang ke kantor jam 8.30, menulis buku absen, kemudian keluar kantor lagi untuk sarapan dan minum kopi. Mereka baru kembali jam 9.00. Nah dari pada begitu, Direktur HRD berinisiatif untuk memundurkan saja jam kerjanya 30 menit menjadi jam 9.00.

Yang terjadi setelah jam kerja dimundurkan : para pegawai datang ke kantor jam 9.00, kemudian keluar lagi untuk sarapan dan minum kopi, mereka baru kembali jam 9.30.

Apakah melihat hal ini tahun depan Direktur HRD akan memundurkan jam kerja 30 menit lagi ?

Mendengar hal itu Johan senyum-senyum saja, sebab Direktur yang mengambil keputusan aneh bukan monopoli direktur di Valetta saja, di banyak kantor tempat kolega Johan yang lain pun juga ada. Bahkan di Kantor Pusat tak kurang banyaknya keputusan aneh yang diambil.

Keputusan yang mendapat protes keras ataupun hanya ditertawakan saja, walaupun jelas tidak sesuai masih banyak yang tetap dijalankan. Katanya “Pak Menteri sudah tanda tangan, kalau langsung direvisi nanti menurunkan wibawa.” begitulah alasannnya bila ditanya “kok sudah tahu sulit dijalankan, tidak mau direvisi ?” Atau : “Presiden saja bikin keputusan aneh, mosok kita gak boleh.”

Begitulah, apa mau dikata, para pemegang kendali dan para penguasa kantor sudah mengambil keputusan. Kita sebagai pegawai manut saja. Apalagi sudah diberi barikade anda pegawai kelas dua, kami pegawai kelas utama. -antz-

Saturday, February 03, 2007

Detik-detik yang menentukan

Jum’at kemarin saya menerima kiriman sebuah buku berjudul “Detik-detik yang menentukan : Jalan panjang Indonesia menuju demokrasi” yang diberikan oleh penulisnya sendiri yaitu bapak B.J. Habibie. Di sampulnya tertulis “untuk sdr. Sugianto Hadiwibowo“ dan ditandatangani oleh Pak Habibie tgl 28 Nopember 2006.

Buku tersebut pada saat permulaan diluncurkan kepada masyarakat luas, sempat menimbulkan kehebohan dan bahkan tokoh sejarah yang disebutkan hendak membuat buku tandingan.


Secara umum buku yang memuat deskriptif proses disekitar lengsernya Pak Harto, ditulis berdasarkan catatan harian beliau sendiri.


Pak Habibie adalah tokoh perubahan Indonesia yang sebenarnya. Karena pada masa beliaulah lembaga Kepresidenan yang dulu sangat “angker”, menjadi lebih “membumi”. Dahulu seorang Presiden bagaikan Dewa yang diberhalakan dan tidak boleh ditentang, namun pada masa Habiebie, beliau dengan rasional dan penuh keberanian, membuang segala status berhala tersebut.


Selain itu perubahan-perubahan besar di lembaga pemerintahan lainnya pun dilahirkan pada masa kepresidenan Habibie. Dan tak luput “kerikil dalam sepatu” diplomasi Indonesia pun dibuang pada masa beliau.


Langkah beliau yang kontroversial dengan referendum di propinsi Timor Timur ini sesungguhnya sangat tepat, namun sangat disesali banyak kalangan, terutama militer. Dilihat dari sejarah, propinsi Timor Timur ini jelas bukan jajahan Belanda. Padahal Indonesia yang diproklamirkan pada tgl 17 Agustus 1945 adalah seluruh teritorial jajahan Belanda. -antz-