Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Thursday, March 04, 2010

Kepercayaan itu diberikan, bukan diminta

Ada orang minta dipercaya. Bahkan melalui voting !!??
cape de

Tuesday, February 23, 2010

Wejangan Mario Teguh hanya untuk orang yang ingin menjadi baik

Inilah wejangan bapak Mario Teguh di Twitter yang menyulut pro kontra utamanya dari para “pejuang gender” (apa ya arti pejuang gender itu):

# Pada akhirnya kita harus memilih wanita yang baik untuk istri, pria yang baik untuk suami, dan membangun keluarga yang baik.

# Jodoh itu di tangan Tuhan. Akan lebih baik jika kita periksa apakah kita mempersulit orang yang ingin memperjodoh kita.

# Wanita yang pantas untuk teman pesta, clubbing, begadang sampai pagi, chitcat yang snob, merokok dan kadang mabuk, tidak mungkin direncanakan jadi istri.

# Hidup berbahagialah dengan istri anda yang baik, atau suami anda yang anggun. Tidak ada kebahagiaan selain kebaikan. (detik.com)

Tulisan yang dimerahi itulah yang dikutip dan dipakai untuk berpolemik. Entah disebut bias gender lah, wanita sebagai objeklah, patrialislah, dan lainnya yang mirip-mirip itu.

Tapi bila kita bertanya pada hati kita: gundah gak sih bila kita menjadi orang tua dari seorang putri yang senang clubbing, chitchat snob, dugem sampai pagi, gunta-ganti pria ke pesta gak jelas, mabuk atau merokok ?

Yang jelas saya dan isteri saya pasti akan memberikan nasehat, “Nak jadilah wanita yang baik, sehingga pantas mendapatkan jodoh seorang pria yang baik sebagai pasangan”. Ingat kan nasihat orang tua dahulu dalam hal jodoh “bobot-bibit-bebet” !

Jangan lupa saat kita mencari jodoh pun secara tidak sadar kita menerapkan bibit-bobot-bebet.

Jika ternyata ada pria yang mejadikan wanita seperti itu sebagai istrinya, kemungkinannya adalah pria tersebut kurang lebih sealiran dengan wanita itu, atau wanita itu adalah wanita yang tidak direncanakan, tetapi karena suatu “kecelakaan” akhirnya menjadi istrinya. -antz-

Friday, September 04, 2009

Seandainya aku dapat 6,7 triliun rupiah

Bank Century adalah bank kecil yang saat ini sedang naik daun. Bukan karena prestasinya yang keren atau menjadi juara diantara para bank. Menjadi terberitakan di koran karena gak jadi ambruk gara-gara ditolong oleh tangan Malekat. Malekat itu memberi Rp 6,7 triliun atau 6.700 milyar.

Kalau bank Century ambruk sih sebetulnya gak bakalan heboh-heboh amat, karena kita memang sudah biasa mendengar bank nasional ambruk. Apalagi Century cuman bank kecil. Yang menghebohkan itu adalah jumlah dana yang Malekat kucurin buat nolong, 6,7 triliun cing!

Coba kita bayangkan uang 6,7 triliun itu seperti apa.

- Jakarta Post hari ini 4/9/09 menyetarakan uang itu bisa membeli 15 buah Sukhoi SU-30 fighter jets, atau 2 buah Sub-Marines Kilo-Class buatan Rusia, atau bisa dipakai untuk menyelesaikan monorail yang belum jadi di Jakarta dan malah bersisa; atau

- Bisa dipakai untuk membangun jembatan Suramadu satu lagi; atau

- Bisa dipakai beli 13.400 buah mobil Toyota Camry yang bakal dijadiin mobil dinas para pejabat eselon I se Indonesia; atau

- Bisa dipakai untuk membuat sekolah dasar se Indonesia gratis beneran (bener-bener ortunya gak keluar duit gitu loh); atau

- Bisa dipakai untuk memberi rumah yang layak (harga 100 jt) bagi 67.000 guru; atau

- Teman saya bilang kalu dibelikan bakso bisa menenggelamkan pulau Jawa, tapi nyatanya gak jadi tenggelam karena semua tukang banksonya kelenger karena gak sanggup bikin sebanyak itu.

- Ada lainnya ?

Monday, August 31, 2009

Tanah subur, kenapa impor ya ?

Membaca berita di Kompas akhir-akhir ini tentang berbagai impor bahan pangan, saya jadi teringat lagu Koes Plus tahun 70-an yang liriknya seperti ini :

Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu

Tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

Ya, tanah air kita-Indonesia memang subur dari dulu sampai sekarang, sehingga membuat ngiler para penjajah untuk membuat koloni di tanah air kita. Bayangkan tongkat dan batu jadi tanaman, ikan dan udang menghampirimu. Kail dan jala bisa menghidupimu !

Tapi itu duluuuuu. Seiring dengan waktu, walaupun tanah kita tetap subur, tapi kalo tidak digarap dengan baik ya akhirnya kita harus impor kedele, beras, gula, jagung, daging, bahkan air minum.

Ironis sekali ya.

Lautan, danau dan sungai sudah dikaplingi, ditumbuhi rumah-rumah ilegal, jadi tempat pembuangan sampah akhir dan kalau perlu dijadikan daratan. Jadi boro-boro menghampiri, ikan dan udang malah mati gak bisa hidup. Kalau sudah begitu apakah kail dan jala masih bisa menghidupimu ?

Tanah nganggur pasti dilirik untuk dijadikan area bisnis (toko atau mall gitu loh), minimal diaspal atau diplester semen. Kayu dan batu bukan jadi tanaman, tapi jadi bangunan la yaw.

Kalau masih nekat jadi petani atau nelayan, siap-siap saja hidup kere dan miskin terjerat tengkulak, hutang, mafia, pungli dan biaya hidup yang untuk hidup sederhana saja susah. Gimana mau produksi hasil pertanian berkualitas tinggi dengan harga murah ? Kalau jalur distribusi dalam negeri begitu mahal, harga pupuk dan mesin pertanian mahal dan hari panen adalah hari anjlognya harga.

Dalam acara Mario Teguh Golden Way, dikatakan bahwa bukan besar kecilnya batu yang bisa melukai, tapi kecepatan dan ketepanan lemparannya. Dengan kata lain orang yang melakukannyalah yang menentukan bukan batunya.

Begitu juga dengan tanah air kita-Indonesia, bukan subur atau tidak tanahnya, tapi penduduknyalah yang menentukan gemah ripah loh jinawi atau tidaknya. -antz-

Friday, August 14, 2009

Mereka membayar harganya

Sabtu sore yang panas, Johan diminta oleh sahabatnya Made Sitanggang untuk gantiin dia "melihat" orang sukses berbicara di Hotel Ma Erot. Katanya tiketnya udah dibeli sayang kalo gak dipake.

Tadinya Johan ogah-ogahan datang ke Hotel Ma Erot, tapi ternyata orang-orang sukses itu memberikan testimoni (ini artinya apa ya ?) tentang kesuksesannya dengan sangat menarik. Tanpa sadar Johan mencatet inti omongan mereka yang kira-kira salah satunya seperti ini :

Pada awalnya -sebelum mereka sukses- mereka bekerja lebih keras dari orang kebanyakan.
Sambil memperlihatkan grafik kerja efektif orang kebanyakan yang hampir sama rata misalnya bekerja efektif 20-30 jam seminggu. Kemudian memperlihatkan grafik kerja efektif orang-orang yang sukses (maksudnya yang seperti mereka gitu loh) yang jika disandingkan grafiknya menonjol cukup signifikan, karena mereka kerja efektif sekitar 60-70 jam seminggu.

Mereka kasih contoh aktor laga Jet Li yang sudah berlatih Wu Shu sejak umur 7 tahun dan terus menerus berlatih. Juga bintang tenis putri Steffi Graft yang sebelum masa jayanya terus menerus berlatih walaupun tidak sedang menghadapi pertandingan. Dan para bintang dunia lainnya.

Para bintang itu berani berkorban menunda waktu bersenang-senangnya untuk terus berlatih mengasah kemampuannya. Bahkan sering mereka mengorbankan waktu untuk lebih lama bersama orang yang dicintainya atau waktu untuk menekuni hobinya. Mereka juga berjuang mengatasi rasa jemu dan malas dalam jiwanya.

Untuk mencapai sukses, mereka berani membayar harganya. Harga yang tidak hanya berbentuk uang, namun juga hati dan pikirannya.

Bila seorang atlet hanya berlatih saat akan ada pertandingan, tentunya si atlet tidak akan pernah menjadi seorang bintang kelas dunia.

Thursday, May 29, 2008

Kesulitan hidup menuntun pada kemusyrikan

Age of information bisa juga berarti age of hoax. Setidaknya itulah yang dialami oleh masyarakat kita. Apalagi didasar akal pikiran sebagian besar manusia Indonesia ini masih terendap animisme. Sehingga walaupun sudah menimba ilmu dunia sampai jauh ke ujung dunia, sudah hafal (setidaknya membaca) Al-Qur’an sampai berbusa-busa setiap hari, ketika kesulitan hidup menghadang yang membuat pusing tujuh keliling dan membuat stress, bete dan sumpek, ajakan “keluar dari masalah dengan instan” cepat hinggap di kepala dan dipercayainya dengan keyakinan seratus persen bahkan bisa mengkafirkan orang lain yang tidak percaya seperti dirinya.

Kejadian-kejadian tidak masuk akal silih berganti melintas di hadapan kita, yang percaya kemudian tertipu juga tidak kurang dari rakyat jelata yang kere dan tidak berpendidikan hingga rakyat elit yang kaya dan berpendidikan tinggi.

Sekedar contoh : investasi agrobisnis, harta karun Batu Tulis, harta mantan Presiden Soekarno di Bank Swiss, bayi mengaji dalam perut, ikan Louhan yang sisiknya bergambar tulisan arab Alloh, cadangan minyak bumi di Kalimantan, atau yang terbaru yang masih perlu dikonfirmasi adalah blue energy. Dan masih banyak lagi yang tidak terkenal seperti penipuan sayembara berhadiah, SMS berhadiah dan tetek bengek berhadiah.

Belum lagi yang minta jabatan, minta jodoh atau minta rezeki ke seorang dukun, minta kekayaan ke kuburan, atau setidaknya berkonsultasi kepada ahli spiritual untuk ikut jadi calon pemimpin masyarakat.

Benang merah yang membuat semua itu terjadi adalah keinginan untuk sukses, kaya, keluar dari kesulitan secara instan. Sim salabim abrakadabra ! dan kayalah si orang kere, atau semakin kayalah si orang kaya, dan seterusnya.

Apakah dunia selalu memberikan keajaiban yang tiba-tiba, entah pada benda, keadaan/situasi atau mahluk hidup ? tentu tidak. Semua ada prosesnya. Proses bisa terlihat (teramati) dan bisa tidak terlihat (teramati) oleh manusia.

Baru-baru ini seorang teman menganjurkan saya untuk menaruh tulisan ayat Kursi di dinding kantor agar “selamat”.

Saya katakan kepadanya bahwa itu termasuk syirik ! Mosok tulisan di dinding, walaupun itu tulisan arab ayat Kursi, bisa membuat kita selamat ? Berarti kita menjimatkan tulisan arab itu.

Kalau saya harus mengamalkan ayat Kursi itu untuk “selamat” tentu lebih bisa difahami.

Hanya ada di film saja drakula bisa lemes kalau ditunjukkin salib. Di dunia nyata, drakula tidak akan takut kalau hanya ditunjukin benda spiritual. Spiritual dalam lubuk hatilah yang bisa membuat lemes atau tidaknya drakula dunia nyata. -antz-

Friday, April 11, 2008

Ternyata masih ada Parpol oke

Baru saja saya baca berita di detikcom judulnya

kutip

11/4/08
Sejak 2005, FPKS kembalikan "amplop" Rp. 1,9 M ke KPK
Muhammad Nur Hayid - detikcom

unkutip

Bukan amplop sembarang amplop yang dikembalikan oleh FPKS, tetapi amplop gratifikasi atau hadiah untuk penyelenggara negara setelah urusannya "diperlancar".

Hebat ! Acung 2 jempol untuk PKS !

Saya bukan kader atau anggota paopol ini, tapi membaca kesungguhan mereka dalam mengemban amanah rakyat dan negara sangat membanggakan dan memberi angin segar, setelah baru saja rakyat Indonesia disuguhi hembusan angin berbau busuk dari parpol lainnya yang tertangkap tangan menerima suap bentuk uang dan bentuk PSK.

Anggota DPR dari PKS jumlahnya sedikit, segitu saja sejak 2005 terkumpul hadiah amplop uang Rp 1,9 M. Berapa milyar rupian amplop yang berseliweran di gedung DPR ? oalah...... padahal pendapatan resmi mereka saja sudah sangat signifikan dibanding gaji PNS golongan III. -antz-

Sunday, May 06, 2007

Bulannya pendidikan

Bulan Mei ini memang bulannya pendidikan. Alasannya ? karena di bulan ini ada peringatan hari pendidikan nasional dan ada peringatan hari kebangkitan nasional, yang bangkit karena orang-orangnya terdidik. Juga ada hari buruh sedunia, dimana orang-orang itu menjadi buruh karena pendidikannya. Kemudian isteri saya ulang tahun di bulan ini (hubungannya apa ya?)

Peringatan hari pendidikan demi peringatan hari pendidikan terus dilakukan, setelah itu ???

Beberpa bulan yang lalu saya membaca berita di Kompas dengan judul “Wapres : mutu pendidikan SD / SMP sekarang rendah”. Kira-kira yang disebut “sekarang” oleh Wapres JK itu kurun waktu kapan ? Karena pada tahun 1997 tokoh-tokoh nasional juga sudah menyebutkan bahwa mutu lulusan perguruan tinggi Indonesia termasuk rendah. Terus dulu lagi dan lebih dulu lagi juga pernah disebutkan hal yang sama oleh orang yang berbeda.

Saya teringat waktu SD kemudian SMP dan juga SMA, saya termasuk siswa kategori payah untuk pelajaran “hafalan”. Maka waktu SMA dulu, saya ambil jurusan A1 (jurusan fisika) bukan untuk gagah-gagahan, tapi karena jurusan itulah yang tingkat hafalannya lebih sedikit (setidaknya menurut ukuran saya).

Juga dulu (nostalgia nih) saya termasuk siswa dengan ranking tidak pernah 10 besar. Satu-satunya ranking terbaik saya adalah ranking 11 saat saya kelas 3 SMA semester 1. Dan itu menjadi bahan ejekan para sepupu dan bibi saya saat silaturahmi lebaran. Karena saat lebaran mereka datang kerumah orang tua saya untuk menengok kakek saya (kakek saya tinggal dengan ortu saya). Maklum, mereka walau sekolah di kabupaten tetapi selalu rangkin 3 besar.

Tapi sebelum saya melanglang buana, saya sempat balas ejekan mereka (he he he he dasar !). Saat nilai ujian nasional (dulu NEM) saya dapat nilai rata-rata 7 tanpa satupun angka kurang dari 6, sedangkan sepupu-sepupu saya (yang sering mengejek) tidak ada yang mendapatkan angka diatas 5, satu mata pelajaranpun tidak. Dulu saya mentertawakan dan mengejek seperti ini (maafkan saya ya…. -maklum dulu saya masih remaja-) “lebih baik ranking 30 tapi di divisi A (kelas utama – kayak di sepak bola) daripada juara tapi di divisi D (kelas teri)”.

Membandingkan pelajaran di SD saya dulu dan pelajaran di SD anak saya sekarang yang kebetulan bukan di Indonesia (di Italia), terasa pelajaran SD di Indonesia lebih berat (karena disampaikan dalam bentuk ceramah satu arah) dan lebih banyak (terutama) hafalan. Pelajaran SD disini (Italia) lebih sedikit (hafalannya) dan dikemas dalam bentuk cerita. Siswa juga selalu diminta menuliskan sebuah cerita, misalkan ilmu bumi, cerita tentang bumi kita dll. Pelajaran “seram” seperti matematika-pun dikemas dalam bentuk cerita, sehingga membuat siswa SD tidak takut dengan matematika.

Saat akhir program sekolah, di lembar laporan siswa (= rapor) tidak tertera ranking, sebab menurut guru-gurunya, ranking tidak memberi dampak positif bagi siswa. Juga tidak tertera angka, yang ditulis adalah mutu kemampuannya misalnya istimewa, baik sekali, baik, cukup, dan kurang. Disertai pantauan guru-gurunya yang berupa hal-hal yang harus ditingkatkan dan juga saran perbaikan.

Mudah-mudahan hari pendidikan tahun ini ada perubahan berarti di lingkungan pendidikan terutama dasar dan menengah. Sehingga diharapkan para siswanya sanggup menjadi pembangkit dan motor kemajuan Indonesia dikemudian hari.-antz-