Wednesday, September 12, 2007

Melihat bulan (hilal)


Jaman semakin maju, ilmu pengetahuan terus bertambah akurat. Teknologipun terus berkembang sehingga mampu menghitung hal-hal yang dulunya rumit, melihat benda yang sekecil-kecilnya atau sejauh-jauhnya.

Dulu, pada jaman Kerajaan Majapahit, orang akan heran dengan fenomena gerhana bulan. Dan saat itu mungkin orang-orang di jaman Majapahit menyangka bulan dimakan genderuwo. Jangankan jaman Majapahit, tahun 1979 di Desa saya masih menyangka bulan dimakan Genderuwo juga.

Pada jaman Majapahit, orang-orang menentukan kapan puasa atau kapan lebaran akan pergi ke gunung tertinggi atau pucuk pohon tertinggi dan memicingkan mata melihat hilal.

Saat ini iptek telah sanggup menghitung kapan terjadinya gerhana bulan dan melintasi wilayah mana saja gerhana itu dengan keakuratan yang tinggi. Tentunya menghitung kalender bulan pun bukan perkara rumit.

Anehnya untuk menentukan kapan mulai puasa dan kapan jatuhnya lebaran, kita masih lebih senang dengan teknologi abad 14 yang lalu.

Tapi sering terjadinya perbedaan hari awal puasa atau hari lebaran, baik lebaran Haji atau lebaran Fitri, lebih banyak dipengaruhi oleh terlalu PD-nya ormas penentu "keislaman" (ck ck ck ck), maka mereka pun merilis pernyataan masing-masing yang lebih sering bikin bingung daripada bikin adem. -antz-

No comments: