Sunday, December 30, 2007

Kesibukan akhir tahun anggaran

Kantor Johan sebetulnya sedang libur akhir tahun yaitu liburan Natal dan Tahun baru yang digabung sehingga menjadi libur dua minggu. Maklum kantor Johan berada di wilayah yang memang mayoritas masyarakatnya adalah umat Kristiani.

Tapi Johan tidak dapat menikmati liburan itu karena kesibukan akhir tahun. Kesibukan rutin seperti semua kantor-kantor di Indonesia. Yaitu kesibukan akhir anggaran.

Disela-sela kesibukan menghabiskan anggaran, yahh paling tepat memang disebut menghabiskan anggaran. Karena kejadiannya seperti orang yang setress terburu dengan dead-line untuk segera merealisasikan semua kegiatan yang anggarannya masih tersisa. Selain itu mendampingi “delegasi” yang juga sedang menghabiskan anggaran.

Maka Johan agak heran dengan Menkeu, Sri Mulyani yang baru hari ini terkaget-kaget dengan fenomena menghabiskan anggaran di akhir tahun. Emang tahun-tahun lalu nggak ngecek ya ? Seperti dalam berita ini :

Minggu, 30 Des 2007,
Tutup Tahun, Penyerapan Anggaran Melonjak Tajam

Menkeu Terkaget-kaget, Ibaratkan Legenda Bandung Bondowoso
JAKARTA - Sistem kebut semalam (SKS) ternyata dipraktikkan aparat pemerintah dalam menghabiskan alokasi anggaran. Menjelang tutup tahun, pengeluaran anggaran pemerintah tiba-tiba mengucur jauh lebih deras daripada biasanya. Demikian pula halnya dengan penyerapan dana alokasi khusus (DAK), yang langsung terserap 100 persen dalam tempo singkat.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan, belanja pemerintah meningkat signifikan dalam dua pekan menjelang tutup tahun ini. "Jadi, dua minggu yang lalu, realisasinya masih di angka 83 persen, sedangkan kemarin (Jumat, 28/12, Red) saat saya cek, saya surprised karena angkanya sudah 89,4 persen," jelasnya kepada wartawan di Graha Sawala Departemen Keuangan Jakarta kemarin.

Kenaikan enam persen penyerapan anggaran belanja modal pemerintah dalam tempo dua minggu itu, menurut Menkeu, merupakan pencapaian yang luar biasa. "Ini sungguh mengejutkan dari sisi akurasi antara asumsi dan realisasi anggaran," kata Ani, panggilan Sri Mulyani.

Namun, keterkejutan Menkeu itu diikuti kekhawatiran bahwa penyerapan belanja modal pemerintah tersebut digenjot dengan tanpa memperhatikan prinsip-prinsip good governance. "Ini yang menjadi concern kami. Artinya, kalau memang itu merupakan hal-hal yang sudah sesuai prinsip, maka pencapaian itu merupakan suatu hal yang signifikan," terangnya. seterusnya bisa dibaca disini

Semasa tugasnya Johan pernah menangani kegiatan yang cukup besar yang mengharuskan disetiap akhir kegiatan akan diperiksa oleh tim pemeriksa baik Itjen, BPK ataupun BPKP. Sehingga Johan pernah mengalami pemeriksaan oleh Itjen, BPK dan BPKP. Dari semua tim pemeriksa itu, Johan menyimpulkan bahwa hasil kegiatan yang nyata tidak menjadi fokus pemeriksaan. Yang menjadi fokus pemeriksaan adalah administratifnya saja.

Bahkan anggota tim pemeriksa itu mengatakan pada Johan, “foto-foto fakta ataupun laporan hasil kegiatan tersebut tidak diperlukan bagi tim. Yang diperlukan adalah kelengkapan administratif”. “Sehingga jika administratif buruk, maka diangap kegiatan tersebut dimanipulasi”. Pendapat Johan mirip sekali dengan tanggapan anggota DPR RI dalam berita tersebut :

Merespons hal itu, Anggota Komisi XI DPR Ramson Siagian mengemukakan bahwa kecenderungan yang kini terjadi adalah pemerintah lebih memprioritaskan masalah pemenuhan administratif daripada memenuhi kualitas pembangunan. "Paradigmanya belum berubah, masih seperti Orde Baru. Jadi, percepatan pencairan dana yang dilakukan lebih untuk kepentingan pemenuhan administrasi," katanya.

Menurut Ramson, perlu perencanaan anggaran yang merata untuk mendapatkan hasil pembangunan yang optimal. "Jangan proyek 8 bulan dipaksa 3 bulan. Akhirnya terburu sehingga multiplier effect-nya juga tidak maksimal. Kualitas pekerjaan tidak optimal," tuturnya.

Jadi memang sistem pengelolaan keuangan negara kita masih perlu dilakukan pembenahan yang menyeluruh sehingga pemelo : Mr Clean akan ikut kotor jika sudah menangani anggaran di pemerintahan. Menjadi : Mr. Dirty akan dipaksa menjadi Mr Clean setelah menangani anggaran pemerintah. -antz-

Saturday, December 15, 2007

Laboratorium Jeruk di Acereali, Sisilia

Saya berkesempatan mengunjungi laboratorium pusat penelitian jeruk di kota Acereali sekitar 30 km dari kota Catania, yaitu sebuah kota kecil di pulau Sicilia di Italia bagian Selatan.

Pusat penelitian itu memiliki lahan untuk percobaan dan pengembangan jeruk seluas 25 hektar. Disana diteliti dan dikembangkan berbagai jenis jeruk dari jeruk untuk dimakan karena manis, dibuat hiasan karena indah atau unik, dibuat parfum karena aromanya yang kuat, atau untuk dipakai sebagai pewarna makanan.


Jeruk Tangan Budda.
Jeruk jenis Citrus ini tidak bisa dimakan, dikembangkan hanya sebagai hiasan saja. Karena bentuknya seperti jari jemari, maka dinamai Tangan Buda.


Jeruk Satsuma
Ditilik dari namanya jeruk ini berasal dari Jepang. Yang disebelah kanan kulit jeruknya masih kencang, kondisi yang pas untuk dipanen. Rasanya manis, namun masih berbiji. Yang sebelah kiri sudah mulai keriput (disebut monstruma = menjadi monster) kondisi terlambat dipanen.


Bargamotto Fantastico
Jeruk ini tidak bisa dimakan karena rasanya sangat asem. Namun karena aroma jeruknya sangat kuat, jeruk ini dikembangkan untuk parfum.


Jeruk Novelana
Jeruk jenis orange ini rasanya sangat manis, setiap jeruknya mempunyai tanda bolong dibagian bawahnya.


Tarocco Rosso
Jeruk jenis orange ini warnanya merah, sehingga disebut Tarocco Roso (roso = merah). Warna merah ini hanya terjadi bila lingkungan tempat tumbuhnya adalah iklim dingin dan kering, biasanya dipanen akhir bulan Nopember. Bila ditanam di daerah tropis warna merahnya tidak akan keluar namun rasanya tetap manis.


Jeruk Citrus dengan buah yg besar-besar


Jeruk 89
Jeruk ini merupakan hasil perkawinan silang antara jeruk mandarini dengan jeruk merah. Jeruk ini dikembangkan bukan untuk dimakan, tetapi untuk pewarna makanan. Warna merahnya seperti darah.-antz-

Sunday, November 18, 2007

Terobosan gaji PNS

Keluhan gaji pokok PNS yang kecil telah berlangsung bertahun-tahun. Tahun ini beberapa PNS telah mendapatkan jawaban atas keluhan tadi. Sayangnya belum kepada semua PNS.

PNS Depkeu telah mendapatkan tambahan penghasilan yang disebut tunjangan renumerasi beban kerja, PNS Pemda Gorontalo menerapkan yang disebut tunjangan kinerja daerah (TKD). Terobosan cerdas yang jika diterapkan dengan adil akan membuat kinerja PNS meningkat drastis.

Bila semua Departemen dan Pemda menerapkan sistem tunjangan beban, kinerja, prestasi dan resiko kerja kepada PNS se-Indonesia, serta menerapkan dengan prinsip yang adil dan transparan (dalam arti bukan hanya karena kasihan) maka dapat dipastikan keluhan PNS berkinerja buruk secara pasti akan hilang. Kinerja PNS yang memang baik dan berpotensi tinggi akan meningkat dengan pesat.

Namun bila tunjangan (apapun namanya) diretapkan secara rata dengan sistem PGPNS J -pinter atau goblok penghasilan sama)- hasilnya tidak akan memberikan dampak apa-apa selain anggaran negara yang tersedot besar-besaran untuk membiayai karyawan yang kinerjanya tetap rendah.

Untuk mendapatkan hasil sesuai dengan yang diharapkan, tentu membutuhkan sistem/pedoman tentang ukuran kinerja, prestasi dan resiko kerja yang jelas dan pasti untuk setiap jenis pekerjaan yang dilakukan PNS. Bila tidak ada sistem/pedoman ini, pola tunjangan akhirnya hanya mengandalkan kebijakan para Kepala di instansinya masing-masing. Hal yang tentunya kurang sehat dalam jangka panjanga. -antz-

Thursday, November 01, 2007

Maksain


Itu mobil kuning udah tahu tempat parkirnya gak cukup, maksain banget. Mobil depan dan belakangnya jadi lecet.

Sunday, October 28, 2007

Survei penghasilan (salari) pegawai di Italia

Mau tau berapa kisaran rata-rata penghasilan para pegawai di Italia ? Simak berikut :

Peraturan perburuhan di Italia termasuk yang konvensional, ketat dan menyulitkan para pengusaha. Sebab sekali merekrut pegawai, pegawai tersebut akan sulit di pecat tanpa ada unsur “pelanggaran”.

Misalkan tahun ini perusahaan memerlukan 10 karyawan, kemudian lima tahun mendatang karena perusahaan telah melakukan robotisasi, karyawan yang dibutuhkan hanya tinggal 7, maka akan sulit untuk memberhentikan yang 3 padahal keahliannya sudah tidak dibutuhkan.

Baru-baru ini para pegawai negeri di Roma melakukan demo, yang menurut salah satu tokoh disini, gaji pegawai di Italia adalah yang paling rendah di Eropa. Gaji pegawai negerinya rata-rata sekitar € 47.385,- per tahun atau € 3.948.75 per bulan. (hasil survey PayScale)

Bandingkan dengan rata-rata gaji PNS di Jakarta, yang rata-rata cuman Rp 2 juta atau sekitar € 160,- per bulan yang per tahunnya berarti sekitar Rp 24 juta atau hampir € 2.000,-. Tidak sampai sebulannya PNS di Italia !!!

Gaji para pekerja TI di Italia ternyata lebih rendah dari gaji para pekerja Rumah sakit dan farmasi. Selain itu gaji dosen (universitas) ternyata dikalahkan oleh gaji guru (sekolah dasar sampai menengah atas). Dan gaji seseorang yang memegang sertifikat politeknik atau setara D3 (akademi) jauh melebihi para pemegang sertifikat sarjana.

Hasil survei gaji (per tahun) berdasarkan job :

- Sistem Administrator, Komputer/Network berkisar € 26.407,- (sekitar € 2.200,- per bulan)

- Software Engineer/Programer/Developer € 24.912,- yang senior € 34.877,-

- Manajer Proyek TI € 29.895,-

- Analis Sistem Informasi € 24.414,-

- Auditor keuangan € 41.852,-

- Manejer pemasaran € 62.280,-

- Konsultan € 49.824,-

- Guru SMA € 34.619

Hasil survei gaji (per tahun) berdasarkan tempat kerja :

- Pegawai Pemerintah (seperti PNS) € 47.385

- Pegawai Negara (mungkin kayak pejabat negara) € 64.447,-

- Pegawai industri software development € 40.358,-

- Pegawai rumah sakit € 109.614,-

- Pegawai farmasi € 122.643,-

- Pegawai telekomunikasi € 47.831,-

- Pegawai bank € 52.814,-

- Pegawai universitas/dosen € 36.821,-

- Pegawai sekolah/guru € 38.863,-

- Pegawai industri mobil € 66.896,-

Hasil survei gaji (per tahun) berdasarkan pendidikannya :

- Phd/Doktor (setara S3) € 53.810,-

- MBA (setara S2) € 61.012,-. yang senior € 66.895,-

- Master of Science (setara S2) € 49.326,-. yang senior € 55.747,-

- Master (setara S2) € 44.842,-

- BBA (setara S1) € 71.747,-

- Bachelor (setara S1) € 44.842,-

- Politeknik € 50.804,-. yang senior € 86.407,50

- SMA € 50.223,-

-antz-

Sunday, October 21, 2007

Perampok di Rumah kami

Hari Jum'at yang lalu (17/10) jam 2 siang, saat saya sedang sholat Jum,at di Islamic Centre of Rome, ada miss call 2x dari rumah.

Biasanya saya baru ingat mengaktifkan telepon seluler pas sore hari, tapi hari itu begitu usai sholat, saya langsung mengaktifkannya dan mendapati 2x miss call. Saat ditelepon, istri saya memberi kabar bahwa baru saja ada usaha pencurian di rumah. Dan polisi sedang berada di rumah. Saya langsung pulang dan mengecek.



Benar saja, 2 orang yang diduga orang nekat (mungkin orang yang kena narkotika atau imigran gelap), dengan hanya bermodalkan palu berusaha membongkar teralis di jendela kamar kami. Padahal teralis rumah kami seperti teralis penjara, tebal dan kuat. maklum lantai dasar.

Polisi dan Portir (penjaga apartemen) sangat tidak dapat mempercayai, siang hari, dengan hanya bermodal palu, berusaha membobol teralis yang seperti itu.

Saat kejadian, Romano dan pembantu kami mendengar suara dentuman palu (suaranya sangat keras) di tembok dan melihat dua orang di jendela kamar. Spontan berteriak "Ibu....ibu..." Isteri saya segera datang dan membuka kaca jendela yang tepat berada di depan kedua orang itu dan berteriak "Aiuto... Ladri..." (Tolong... Maling...); "Vittorio aiuto !! ...." (Vittorio adalah nama portir di apartemen kami)



Pencuri itupun lari tunggang langgang melewati taman kami dan meloncati pagar melalui dahan pohon yang menjorok melewati pagar. Seluruh penghuni apartemen yang menghadap ke rumah kami (mungkin juga yang diatas rumah kami) bermunculan dari jendela rumahnya masing-masing dan melihat sang maling berlari ke jalan via Pian Di Sco. Sig. Biganti (yang bertanggung jawab atas apartemen yang kami sewa) menelepon menanyakan kejadian dan kemudian menelepon polisi.

Hari ini dahan pohon yang menjorok melewati pagar itu saya tebang!

Tuesday, October 09, 2007

Jangan pergi ke Malaysia

Malaysia sudah bertindak sangat sewenang-wenang terhadap warga negara Indonesia yang berada di sana.

Himbauan untuk seluruh Warga Negara Indonesia :

JANGAN PERGI KE MALAYSIA.
DISANA KESELAMATAN ANDA TIDAK TERJAMIN.
MASYARAKAT DAN APARAT NEGARA MALAYSIA TELAH MENJADI SANGAT BRUTAL DAN BUAS BILA MELIHAT WARGA NEGARA INDONESIA

Sunday, October 07, 2007

Politik Pilpres dan Dukun

Pilpres, Pemilihan umum Presiden RI, masih 2 tahun lagi. Tapi di koran-koran, kampanye (kemunculan) memperkenalkan para calon sudah mulai hingar bingar. PDIP sudah mencalonkan ibu Megakarti eh Megawati, Partai ... (entah berantah) sudah mengusung Sutiyoso. Nama lain masih menyusul hingga 3 bulan menjelang pilpres.

Ada yang menarik..... yang dibahas di alam khayangan saja :
Ibu Megawati, mantan Presiden RI sebelumnya yang pada Pilpres tahun 2004 kalah, tidak mempunyai jiwa besar, tidak berjiwa negarawan, prestasi kerja sebagai Presiden RI nya buruk. Tentu rakyat Indonesia masih ingat kan slogan "Partai wong cilik" yang diusungnya, tetapi kiprahnya ternyata untuk wong licik. Merdeka !! (emang RI belum merdeka ya ?)

Sutiyoso, mantan Gubernur DKI 1o tahun, telah mendeklarasikan diri akan ikut menjadi calon Presiden RI pada Pilpres mendatang. Bang Yos (sapaan Sutiyoso kala menjadi Gubernur DKI) sehari setelah deklarasi pencalonannya, langsung mendatangi Mbah Marijan, kuncen Gunung Merapi di Jogjakarta.

Menurut Bang Yos, kedatangannya ke Mbah Marijan adalah dalam rangka minta doa restu. Mungkin dalam pikiran Bang Yos, Mbah Marijan ini telah terbukti sanggup memindahkan letusan Gunung Merapi menjadi banjir lumpur Lapindo :) Sehingga Bang Yos berharap Mbah Marijan pun dapat memindahkan dia menjadi Presiden RI mendatang he he he he he he...

10 tahun menjadi Gubernur DKI Jakarta ternyata tidak membuatnya selalu berpikir rasional, ada klenik juga ya ? atau jangan-jangan waktu mau menjadi Gubernur juga pake dukun *ups jangan su'udzon*

Apa jadinya Indonesia kalau mereka terpilih ya ? Waktu yang akan membuktikan !

Sunday, September 23, 2007

Luigi : Mobil disain lama yang muncul lagi



Mobil Fiat 500 (cinque cento) pertama kali diproduksi tahun 1950-an, karena bentuknya keren yang dalam film Cars juga dipopulerkannya dengan nama Luigi, akhirnya tahun 2007 ini muncul lagi di pasaran mobil kecil (city car). -antz-

Saturday, September 15, 2007

Vespa

Pameran Vespa buatan Piaggio, Vespa dari tahun 1950-an sampai 1980-an.
Bentuknya aneh-aneh, yang ada boncengan gerobaknya buatan tahun 1957, yang stangnya mirip sepeda dan lampunya di roda depan buatan tahun 1959, yang ban serepnya di tengah tahun 1965, dan yang mirip Bajai adalah Vespa tahun 1963.






Friday, September 14, 2007

Narapidana sebagai wakil rakyat

Hari ini bangsa Indonesia memiliki seorang narapidana sebagai anggota DPR RI. NH dari Partai Golkar telah dilantik sebagai salah satu anggota wakil rakyat.

Para napi akan bangga karena telah mempunyai wakil di Senayan (hi hi hi hi hi). Bangga boleh, tapi jangan senang dulu, karena NH ini tidak akan mewakili kepentingan para narapidana, yang pasti dia akan mewakili kepentingan partainya dan juga (yang paling pokok) perutnya. -antz-

Wednesday, September 12, 2007

Melihat bulan (hilal)


Jaman semakin maju, ilmu pengetahuan terus bertambah akurat. Teknologipun terus berkembang sehingga mampu menghitung hal-hal yang dulunya rumit, melihat benda yang sekecil-kecilnya atau sejauh-jauhnya.

Dulu, pada jaman Kerajaan Majapahit, orang akan heran dengan fenomena gerhana bulan. Dan saat itu mungkin orang-orang di jaman Majapahit menyangka bulan dimakan genderuwo. Jangankan jaman Majapahit, tahun 1979 di Desa saya masih menyangka bulan dimakan Genderuwo juga.

Pada jaman Majapahit, orang-orang menentukan kapan puasa atau kapan lebaran akan pergi ke gunung tertinggi atau pucuk pohon tertinggi dan memicingkan mata melihat hilal.

Saat ini iptek telah sanggup menghitung kapan terjadinya gerhana bulan dan melintasi wilayah mana saja gerhana itu dengan keakuratan yang tinggi. Tentunya menghitung kalender bulan pun bukan perkara rumit.

Anehnya untuk menentukan kapan mulai puasa dan kapan jatuhnya lebaran, kita masih lebih senang dengan teknologi abad 14 yang lalu.

Tapi sering terjadinya perbedaan hari awal puasa atau hari lebaran, baik lebaran Haji atau lebaran Fitri, lebih banyak dipengaruhi oleh terlalu PD-nya ormas penentu "keislaman" (ck ck ck ck), maka mereka pun merilis pernyataan masing-masing yang lebih sering bikin bingung daripada bikin adem. -antz-

Sunday, September 09, 2007

La Notte Bianca : Malam begadangan

Mengakhiri musim panas, di Italia ada tradisi yang disebut La Notte Bianca atau malam begadangan. Tahun ini malam begadangan di Roma jatuh pada tgl 8 September 2007.


Pada malam itu banyak sekali organisasi yang mengadakan acara khusus dari mulai jam 20 sampai jam 3 dini hari. Misalnya di via Veneto --jalannya kaum elit dan sangat terkenal di Roma karena banyaknya orang-orang jetset yang konkow disitu-- ditutup karena ada panggung tarian. Selain itu ada pameran Vespa dari Piaggio. Vespa dari jaman dulu sampe Vespa tahun 1985-an.

Di piazza Spagna ribuan orang memadati jalan dan lapangan di sana. Jangan harap kendaraan bisa lewat. Penuh nuh……

Di dekat lapangan Circo Massimo tepatnya di Giardino degli Aranci Piazza Pietro D’Illiria juga diadakan acara Begadangan dengan nama Notte D’Oriente.

Di acara Notte D’Oriente pada jam 21.45 digelar tari Topeng Bali dengan judul “L’incredibile storia del re Bedahulu” dengan penari Enrico Masseroli seorang Italia. Dan jam 1.45 dini hari tari Bali dengan judul “Legong, Jauk, Pelegongan” dengan penari Ni Nyoman Inten Sriasih seorang Bali tulen.

Ditempat-tempat lain seperti di Castel Angelo, pinggiran sungai jalan Transtevere, di Piazza Venezia, disamping Coloseo juga ada acara-acara lainnya. Saya gak bisa memantau acara itu semua karena jalan-jalannya tertutup ribuan (atau jutaan ya?) orang yang begadangan. -antz-

Monday, September 03, 2007

Kembali bekerja kembali macet

Hari ini keadaan kota Roma sudah normal kembali. Yang ditandai dengan macetnya jalan Prati Fiscali. Yah… jalan itu adalah jalan tersingkat dan tercepat dari rumah ke kantor bila dilalui pada hari Sabtu atau Minggu. Tapi merupakan jalan terlama bila dilalui pada hari kerja, karena lebih dari 30 menit saya habiskan untuk melewati jalan sepanjang 2 km itu.

Bulan Juli dan Agustus merupakan bulan liburan bagi orang-orang di Roma atau Italia secara umum. Bulan itu juga merupakan bulan diskon di setiap toko dari tanggal 14 Juli sampai 14 Agustus. Baik diskon beneran ataupun diskon boongan. Kadang ada toko yang nakal dengan menaikkan harga dulu kemudian dicoret dan harga diskonnya sama saja dengan harga sebelumnya. Tapi hanya di beberapa toko saja.

Pada bulan itu suasana jalan raya yang biasanya macet menjadi sedikit longgar. Malahan dari tanggal 15 Agustus sampai 1 September jalanan menjadi lebih sepi lagi. Hampir semua kantor libur karena karyawannya sebagian bersar cuti.

Bila kita mengadakan kegiatan pada bulan itu, hampir dipastikan pengunjungnya sedikit. Atau mencari bahan-bahan penunjang kegiatannya sudah sulit. Sehingga semua kegiatan yang jatuh pada bulan Juli dan Agustus pasti digeser menjadi bulan sebelumnya atau sesudahnya.

Iseng-iseng saya tanya ke beberapa orang Italia, kenapa sih mereka hampir serentak cuti di bulan itu. Menurut orang-orang itu pada bulan-bulan ini cuaca sangat panas, sehingga fisik dan pikiran tidak dapat secara penuh berkonsentrasi. Nah daripada bekerja setengah-setengah, maka mereka memilih cuti saja agar tidak mengganggu pekerjaan dan dirinya sendiri. …… ooo gitu toh ……

Wednesday, August 29, 2007

Masjid Roma

Masjid dan Pusat Kebudayaan Islam Roma ini diharapkan menjadi pusat perkembangan Islam dan kaum Muslim di Italia. Masjid ini adalah satu-satunya mesjid resmi yang ada di Roma dan merupakan mesjid terbesar di Italia dan mungkin di Eropa.

Masjid dengan luas aula tempat sholat berukuran 60 x 40 m sanggup menampung 2500 jamaah dan menghadap kiblat di arah tenggara.

Masjid ini dirancang oleh arsitek Paolo Portoghesi dan Vittorio Gigliotti dan dibuka untuk umum pada tahun 1995. -antz-

Friday, August 10, 2007

Jiwa besar yang sangat langka di pentas elit Indonesia

Hingar bingar pilkada DKI sudah usai, cagub dan cawagub yang “sudah pasti” memenangkan pilkada sudah terlihat. Sorak sorai kemenangan dan tangis kesedihan mulai nampak.

Namun cagub dan cawagub yang “sudah pasti” kalah melakukan hal yang sangat jarang sekali terjadi dan dilakukan oleh orang-orang yang menganggap dirinya tokoh masyarakat, politisi, negarawan atau pemimpin masyarakat di Indonesia. Mereka, cagub Adang dan cawagub Dani serta partainya PKS dengan lapang dada dan jiwa besar mengakui kekalahannya seraya mengucapkan selamat kepada pemenang serta berjanji akan ikut mendukung program kerja cagup dan cawagup terpilih.

luar biasa ! langka ! jiwa seorang negarawan, politisi sejati, tokoh panutan bagi masyarakat dan para pemimpin lainnya.

Apakah sikap seperti ini akan terjadi jika sebaliknya yaitu cagub Foke dan cawagup Prijanto serta para partai pendukungnya yang kalah ??? Jiwa-jiwa merekalah yang dapat menjawabnya.

Tentu kita masih ingat saat pemilu Presiden RI yang lalu, dimana Megawati (Presiden RI saat itu) yang mengaku dirinya seorang negarawan, tokoh masyarakat atau pimpinan masyarakat dengan hati sempit sambil menangis tidak mau mengakui kekalahannya dan mengucapkan selamat, juga tidak mau menyatakan akan membantu program-program dari Presiden dan Wapres terpilih. Peristiwa itu merembet (lebih tepat menjadi contoh) pada pilkada di daerah-daerah lain di Indonesia. Pilkada-pilkada di Indonesia mencontoh jiwa kerdil mantan Presiden RI dan para politisi partainya saat Pemilu Presiden 2004.

Juga kita tentu ingat pilkada Walikota Depok yang merupakan kebalikan dari pemenang pilkada DKI. Di Depok kekisruhan perebutan pengaruh kekuasaan sangat terasa, sehingga banyak program bagus yang terhambat.

Semoga Bung Adang Darajatun, Bung Dani Anwar dan PKS menjadi panutan bagi para calon pemimpin bangsa dan politisi lain dalam menyikapi kemenangan dan kekalahan dalam pemilihan kepala daerah ataupun presiden dikemudian hari. -antz-

Tuesday, July 17, 2007

Aman itu indah



Mobil-mobil itu dapat dengan tenang dikendarai dalam keadaan open cap, juga ada mobil yang terparkir dalam keadaan open cap ! Waw ……

Itu hanya dapat dilakukan bila kota tersebut aman !

Yang pasti itu bukan di kota-kota di Indonesia atupun di Italia. Sungguh luar biasa pemerintah negara itu, sehingga bisa membuat warganya disiplin dan taat peraturan. Hasilnya, lingkungan yang aman, segar dan nyaman, indah bukan ???

Monday, July 16, 2007

Membeli sesuai kebutuhan


Inilah telepon seluler milik saya, kuno ya ?! Saya bertahan dengan telepon seluler itu selama 6 tahun. Berusaha bertahan dari membeli karena “lapar mata”. Sampai saat ini saya masih berusaha membeli gadget hanya yang sesuai dengan kebutuhan, bukan sesuai dengan banyaknya uang yang ada di kantong.

Saya adalah karyawan dengan kebutuhan telepon seluler hanya untuk bertelepon dan ber-sms. Jadi saya berusaha tidak ikut-ikutan memperebutkan iphone yang baru muncul dan diantri berjam-jam oleh penggemar gadget teranyar di hari pertamanya muncul di pasar. (ini salah satu alasan resmi, alasan aslinya sih gak punya uang lebih untuk beli gituan ha ha ha ha ha, masih ada prioritas lain)

Aahh …… jadi ingat, dalam PNS kan berlaku “yang penting ada anggarannya ! Apakah pembelian barang itu bermanfaat atau tidak, efisien atau tidak itu urusan belakang.”

Misal bos eselon sekian membutuhkan notebook, dan anggaran yang disediakan katakanlah 4,000 dolar AS. Ya belilah yang seharga itu ! Walaupun untuk kebutuhan bos yang misalnya hanya untuk ber-internet, mencek e-mail, presentasi dan office / kesekretariatan ada notebook yang cocok seharga 700 dolar AS.

Juga ada pemeo “kalo masih ada anggarannya, kenapa musti dihemat” akhirnya pemborosan di sektor atk, listrik, telepon, air, pemeliharaan gedung ataupun pembelian inventaris. Nanti begitu ada barang atau aset kantor yang benar-benar rusak, anggarannya tidak ada karena sudah habis.

Tidak kalah populernya adalah “studi banding dan sosialisasi” ke luar negeri. Biasanya dua kegiatan itu kalau normal paling banyak 4 orang, namun dengan semangat “ada anggarannya” maka jumlah pesertanya bak pemain bola kesebelasan yang mau latih tanding, bukan dilapangan bola, tapi di butik-butik terkenal di luar negeri. (eit jangan sinis gitu donk… mereka juga manusia !)

Susah memang menahan diri untuk hanya membeli yang dibutuhkan dan mengambil hanya yang diperlukan …… mata ini selalu lapar ! pantas Rasululloh secara berulangkali memberi contoh untuk hanya makan disaat lapar dan berhenti sebelum kenyang.-antz-

Wednesday, July 04, 2007

Pilkada DKI Jakarta

Sebetulnya saya bukan pengamat politik, apalagi ahli politik atau politikus. Namun Pilkada DKI Jakarta terlalu menarik untuk dilewatkan dari pengamatan. Apa menariknya ?

Dalam Pilkada DKI ada 2 pasang calon Gubernur dan Wagub yang merupakan kondisi ideal sebagai pemilihan a la demokrasi (made in barat). Salah satu pasangan calon adalah dukungan dari 20 Partai, sedangkan yang sepasang lagi hanya dari satu partai.

Analisa gampangnya : kalau pasangan calon yang didukung 20 partai menang, apa yang terjadi ? Tentunya (ini jelas akan dibantah oleh ybs, walaupun dilakukan oleh ybs) akan ada “imbal jasa”. Ya, akan ada permintaan kepada Si Terdukung (Gubernur dan Wagub) yang menang untuk memberikan “jatah” jabatan atau apa saja yang sepadan karena dukungannya tersebut. Lha wong sudah mendukung kok gak dapet apa-apa. Kan gitu logikanya.

Kalau pemerintahan daerah disopiri oleh pejabat-pejabat yang duduk di jajaran Pemda hanya berupa balas jasa, apa yang akan didapat oleh DKI Jakarta dan warganya ?

Saya bukan pendukung PKS yang mencalonkan Cagub dan Wagub sendirian. Tapi saya hanya berfikir secara logis dengan asumsi pengalaman demokrasinya Indonesia. Dimana bagi-bagi “jatah” kepada orang-orang yg telah mendukung adalah hal yang biasa.

Secara teori akan jauh lebih baik pemerintahan daerah yang dilakukan oleh Cagup dan Cawagub dukungan satu partai dari pada 20 partai. Karena tentu kader yang disiapkan menduduki jabatan tertentu bisa dicari yang profesional baik dari kalangan partainya sendiri maupun non-partai. Bila didukung oleh 20 partai tentu minimal akan ada 20 jabatan yang harus diberikan kepada ke-20 kader partai pendukungnya itu. Ini tentu mempersulit menentukan apakah kader itu profesional atau tidak.

Tentunya semua kembali berpulang pada warga DKI Jakarta yang akan menentukan pilihannya nanti. Walaupun diantara kedua calon tersebut tidak ada yang sangat istimewa, namun memilih yang terbaik diantara keduanya adalah sebuah tanggung jawab yang tidak mungkin dapat kita elakkan.-antz-

Monday, June 11, 2007

Apakah bencana membuat kita kebal ?

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat kiriman buku-buku dan brosur dari Dompet Dhuafa (DD). Isinya sangat menggugah, dan memberikan sinar asa baru bagi bangsa Indonesia yang sedang bangkit kembali dari keterpurukan.

Saat kepemimpinan di Indonesia dipenuhi elit yang oportunis, korup dan haus kekuasaan, para personel DD tampil dengan amanah yang tidak diragukan. Mereka bahu membahu memberdayakan masyarakat miskin agar dapat hidup mandiri.

Ya, mereka tidak ingin melestarikan kemiskinan untuk komoditi politik, mereka ingin merubah para penerima zakat menjadi para pemberi zakat. Sebuah kata yang indah diucapkan, namun butuh kekuatan dan komitmen besar untuk mewujudkannya.

Ada hal menarik yang hampir menjadi kebiasaan kita dan kita kerjakan dalam keseharian adalah pengalaman budayawan Ahda Imran dalam salah satu buku itu yang menceritakan tentang adanya televisi di rumah makan Padang.

Mulanya Imran heran mengapa hanya di rumah makan Padang saja disediakan televisi, di rumah makan Sunda tidak ada, di warteg, sate dan soto Madura, gudeg Yogya atau burjo juga tidak ada. Seakan-akan televisi sudah menjadi keharusan yang sama dengan dendeng balado, usus, kepala ikan, rendang atau sambal di rumah makan Padang.

Ternyata memang nikmat makan sambil nonton televisi. Perut kenyang, matapun kenyang.

Tetapi dalam pemikiran Imran, televisi adalah kenyataan dalam makan siang di rumah makan Padang. Setiap orang agaknya sudah dibuat terbiasa memandang semua kenyataan sebagaimana memperlakukan sebuah tontonan, tanpa perlu merasa terganggu. Tidak ada yang berubah dengan selera makan dan rasa setiap hidangan.

Televisi telah membuat kita jadi terbiasa menatap dan menerima berbagai kenyataan hanya sebagai tontonan. Tidak ada lagi yang harus dipersoalkan.

Seperti yang lainnya, dengan tenang Imran menyuapkan nasi dengan rendang kedalam mulutnya, sementara sesosok mayat dalam kantung plastik dipindahkan ke dalam peti mati.

Tiba-tiba kita tidak lagi harus terperangah menatap mayat, memandang pembunuh, pemerkosa, anak kecil yang disodomi, orang yang dibakar, penjahat yang ditembak, tawuran mahasiswa, korupsi, kemaksiatan, aparat yang baku tembak dan berbagai peristiwa lain yang sebelumnya terasa mengejutkan serta mengerikan.

Bahkan semuanya hanya kita pandang seakan-akan bukan lagi sebagai peristiwa dan persoalan, tapi melulu hanyalah sebagai tontonan. Tontonan yang mengajak orang lain berpikir bahwa semua itu sudah biasa dan lumrah. Setiap orang diajak kebal dan mati rasa!

Mohon ampunan Mu ya Alloh, semoga kita bukan termasuk orang-orang yang kebal dan mati rasa. Amin.-antz-

Sunday, May 13, 2007

Kaget menjadi penguasa

Seminggu yang lalu Johan bertemu dengan kawannya, Matocil, yang sekarang menjadi pemimpin sementara di kantornya karena bos lamanya telah 4 bulan yang lalu menduduki jabatan baru di Perusahaan lain sementara bos barunya belum ada.

Sebetulnya sebutan pemimpin sementara rasanya kurang tepat, karena kata “pemimpin” merupakan kata-kata untuk mutu mentalitas orang tersebut. Sedangkan semua orang di kantor itu tau dengan persis “watak macam apa yang dimiliki orang tersebut”. Wataknya sangat jauh dari watak seorang pemimpin. Lebih tepat adalah kata “penguasa sementara” sebab memang orang tersebut seolah “kaget” kok tiba-tiba menjadi orang nomor satu di kantor ini.

Matocil diangkat menjadi penguasa sementara karena sistem organisasinya yang membuatnya berada pada posisi itu, bukan karena prestasinya. Dan watak dasarnya sebagai orang yang arogan, haus penghargaan, serta serakah, muncul dan meminta untuk dipuaskan dengan sepuas-puasnya. Ditambah lagi Matocil kurang bisa berhubungan dengan orang lain, sehingga ego sentrisnya kentara sekali.

Akibatnya baru beberapa hari berkuasa saja para stafnya sudah langsung merasakan aroma arogansi berupa bentakan dengan kata-kata yang dulunya kata-kata itu dia terima dari bosnya akibat ketidak becusannya bekerja –ceritanya dendam nih.

Dalam ceritanya, Matocil mengeluh karena semua orang di kantornya tidak bisa diajak kerjasama, semua bawahannya bego –istilah dia. Sehingga sekarang ini dia seolah bekerja sendiri –cieee bisanya.

Rupanya kekesalan para bawahannya muncapai puncaknya, sehingga datanglah ancaman dan gertakan terhadap Matocil, yang membuat hati Matocil menjadi tidak enak dan tertekan.

Johan hanya manggut-manggut saja mendengar cerita itu tanpa berkomentar, sebab Johan tahu persis watak arogan Matocil yang tidak akan dapat menerima sebuah nasehat dari kawan-kawannya, walaupun disampaikan dengan sangat lembut.

Johan hanya teringat kata-kata John Maxwell dulu, “menjadi pemimpin itu tidak seperti naik lift, pencet tombol dan sambil melamun pun bisa mengantar kita tiba di puncak”. -antz-

Sunday, May 06, 2007

Bulannya pendidikan

Bulan Mei ini memang bulannya pendidikan. Alasannya ? karena di bulan ini ada peringatan hari pendidikan nasional dan ada peringatan hari kebangkitan nasional, yang bangkit karena orang-orangnya terdidik. Juga ada hari buruh sedunia, dimana orang-orang itu menjadi buruh karena pendidikannya. Kemudian isteri saya ulang tahun di bulan ini (hubungannya apa ya?)

Peringatan hari pendidikan demi peringatan hari pendidikan terus dilakukan, setelah itu ???

Beberpa bulan yang lalu saya membaca berita di Kompas dengan judul “Wapres : mutu pendidikan SD / SMP sekarang rendah”. Kira-kira yang disebut “sekarang” oleh Wapres JK itu kurun waktu kapan ? Karena pada tahun 1997 tokoh-tokoh nasional juga sudah menyebutkan bahwa mutu lulusan perguruan tinggi Indonesia termasuk rendah. Terus dulu lagi dan lebih dulu lagi juga pernah disebutkan hal yang sama oleh orang yang berbeda.

Saya teringat waktu SD kemudian SMP dan juga SMA, saya termasuk siswa kategori payah untuk pelajaran “hafalan”. Maka waktu SMA dulu, saya ambil jurusan A1 (jurusan fisika) bukan untuk gagah-gagahan, tapi karena jurusan itulah yang tingkat hafalannya lebih sedikit (setidaknya menurut ukuran saya).

Juga dulu (nostalgia nih) saya termasuk siswa dengan ranking tidak pernah 10 besar. Satu-satunya ranking terbaik saya adalah ranking 11 saat saya kelas 3 SMA semester 1. Dan itu menjadi bahan ejekan para sepupu dan bibi saya saat silaturahmi lebaran. Karena saat lebaran mereka datang kerumah orang tua saya untuk menengok kakek saya (kakek saya tinggal dengan ortu saya). Maklum, mereka walau sekolah di kabupaten tetapi selalu rangkin 3 besar.

Tapi sebelum saya melanglang buana, saya sempat balas ejekan mereka (he he he he dasar !). Saat nilai ujian nasional (dulu NEM) saya dapat nilai rata-rata 7 tanpa satupun angka kurang dari 6, sedangkan sepupu-sepupu saya (yang sering mengejek) tidak ada yang mendapatkan angka diatas 5, satu mata pelajaranpun tidak. Dulu saya mentertawakan dan mengejek seperti ini (maafkan saya ya…. -maklum dulu saya masih remaja-) “lebih baik ranking 30 tapi di divisi A (kelas utama – kayak di sepak bola) daripada juara tapi di divisi D (kelas teri)”.

Membandingkan pelajaran di SD saya dulu dan pelajaran di SD anak saya sekarang yang kebetulan bukan di Indonesia (di Italia), terasa pelajaran SD di Indonesia lebih berat (karena disampaikan dalam bentuk ceramah satu arah) dan lebih banyak (terutama) hafalan. Pelajaran SD disini (Italia) lebih sedikit (hafalannya) dan dikemas dalam bentuk cerita. Siswa juga selalu diminta menuliskan sebuah cerita, misalkan ilmu bumi, cerita tentang bumi kita dll. Pelajaran “seram” seperti matematika-pun dikemas dalam bentuk cerita, sehingga membuat siswa SD tidak takut dengan matematika.

Saat akhir program sekolah, di lembar laporan siswa (= rapor) tidak tertera ranking, sebab menurut guru-gurunya, ranking tidak memberi dampak positif bagi siswa. Juga tidak tertera angka, yang ditulis adalah mutu kemampuannya misalnya istimewa, baik sekali, baik, cukup, dan kurang. Disertai pantauan guru-gurunya yang berupa hal-hal yang harus ditingkatkan dan juga saran perbaikan.

Mudah-mudahan hari pendidikan tahun ini ada perubahan berarti di lingkungan pendidikan terutama dasar dan menengah. Sehingga diharapkan para siswanya sanggup menjadi pembangkit dan motor kemajuan Indonesia dikemudian hari.-antz-

Saturday, May 05, 2007

Berkah dibalik musibah

Indonesia dalam tahun-tahun belakangan ini didera berbagai musibah, namun bila bangsa Indonesia sanggup melihat berkah dari setiap musibah, tentunya kesuksesan sudah menanti.

Cerita yang saya copy dari Bisnis Indonesia yang ditulis oleh Lisa Nuryanti seorang Managing Director Expands Consulting & Training Specialist yang berjudul Blessing in disguise, akan menjadi cerita yang baik untuk disampaikan.

Alkisah ada seorang pria buta huruf yang bekerja sebagai penjaga sebuah gereja di Amerika Serikat. Sudah sekitar 20 tahun dia bekerja di sana. Suatu hari pemimpin gereja itu dipindahkan ke tempat lain dan digantikan oleh pemimpin baru.

Pemimpin baru ini menerapkan aturan baru. Semua pekerja harus bisa membaca dan menulis agar mereka bisa mengerti pengumuman yang ditempel di papan pengumuman. Penjaga yang buta huruf itu terpaksa tidak bisa bekerja lagi.

Dia sangat sedih dan berjalan pulang dengan lemas. Dia tidak berani langsung pulang ke rumah, tidak berani langsung memberitahu isterinya. Dengan sedih dia berjalan pelan menelusuri jalanan.

Setelah hari gelap sampailah dia di sekitar pelabuhan. Dia pun ingin membeli tembakau. Tapi setelah mencari kemana-mana, setelah mengelilingi beberapa blok, tidak ada satu toko pun yang menjual tembakau. Tiba-tiba, dia berfikir "Tembakau sangat perlu. Tapi di sekitar sini tak ada yang jual tembakau. Aku ingin jualan tembakau saja ah."

Dia pun pulang, lalu dengan penuh semangat menceritakan idenya untuk berjualan tembakau kepada isterinya. Dia tidak lagi menyesali nasibnya yang baru saja kehilangan pekerjaan. Kemudian dia pun membuka kios tembakau. Ternyata tembakaunya laku keras.

Tak berapa lama, dia bisa membuka toko tembakau. Beberapa tahun kemudian dia bisa membuka beberapa cabang toko tembakau di tempat lain. Jadilah dia pedagang tembakau sukses.

Ketika sudah jadi orang kaya, dia pun pergi ke bank untuk membuka rekening. Tapi karena buta huruf, maka dia tidak bisa mengisi formulir. Karyawan bank berkata "Wah, Bapak yang buta huruf saja bisa punya uang sebanyak ini, apalagi kalau Bapak bisa membaca dan menulis, Bapak pasti lebih kaya lagi." Dengan tersenyum dia berkata "Kalau saya bisa membaca dan menulis, saya pasti masih menjadi penjaga gereja."

Waktu dia dipecat, dia merasa sedih, putus asa, dan mungkin menyesali kejadian itu. Peristiwa itu merupakan musibah. Tapi kini, dia bisa melihat bahwa mungkin nasibnya tidak akan berubah menjadi seperti sekarang kalau dulu dia tidak dipecat.

Apa yang dulu merupakan musibah, ternyata kini mendatangkan keberuntungan, menjadi berkah. Mari kita mencoba bersabar dan tabah dalam menghadapi apapun. Berdoa supaya bisa melihat berkah di balik musibah. Do not give up! See the blessings in disguise!

-antz-

Sunday, April 22, 2007

Nostalgia IPDN

Sudah berhari-hari jadi berita nasional, tapi baru liat di youtube.com kekerasan di IPDN.

Gawat juga ya kalau pukulan dan tendangan jadi menu sehari-hari. Tentunya kekerasan dalam pendidikan akan berimbas pada pekerjaan nantinya. Pekerjaan akan dilakukan (sadar atau tidak) dengan aroma kekerasan. Aroma kekerasan ini bisa memang fisik bisa juga kekerasan mental dan jiwa.

Jadi inget dulu tahun 1988 waktu saya disuruh ortu cari sekolah. Waktu itu, di Bandung memang cukup ngetop tuh APDN. Temen-temen banyak yang nyaranin saya ke sana. Padahal temen saya itu gak daftar ke APDN. Maklum dulu saya memang mencari sekolah gratis.

Saya hampir saja menuju kesana, tapi pas denger sekolah itu pake seragam, saya gak jadi. Saat itu saya benci sekolah tinggi berseragam.

Saya akhirnya malah mampir di rumah kos sahabat saya, dan dia ngajak saya ke sebuah sekolah gratis yang masih misterius, daftarnya di jl. Latuharhari Jakarta.

Gak kebayang apa jadinya ya….. seandainya dulu daftar dan masuk ke APDN….

Jangan-jangan (ge-er nih) tahun itu saya jadi headline koran karena “tumbang” saat dikasih “menu harian” ...... hik….hik….hik….., sebab "menu harian"-nya sedahsyat pukulan dan tendangan preman yang lagi gebukin maling HP di Pasar Tanah Abang, apalagi dulu badan saya kurus kering dengan berat hanya 49 kg. -antz-

Wednesday, April 04, 2007

Dialog imajiner di Hari Persandian RI

Pada hari yang cerah dengan suhu berkisar antara 18 – 20 derajat tanpa angin, tanggal 4 April yang merupakan hari Persandian RI, Johan mengundang kawan-kawan alumni Instituto Chriptografia untuk memperingati dan berdialog dalam suasana santai dengan topik yang cukup serius yaitu : Pendidikan dan sertifikasi berjenjang bagi para Kriptografer.

Kebetulan rumah Johan mempunyai halaman yang cukup luas dan ditumbuhi dengan pepohonan yang rindang sehingga memungkinkan peringatan Hari Persandian dilangsungkan sambil ber-BBQ memanggang ikan Orata, iga kambing dan paha ayam. Menu pendampingnya adalah gado-gado ala mbok Darmi di Tanah Abang.

Hadir memenuhi undangan Johan sekitar 50 orang kawannya, yang diantaranya telah menjabat di posisi-posisi penting pemerintahan.

Tepat jam 10.00 acara dibuka oleh Johan : Pertama-tama saya ucapkan terima kasih atas kehadiran kawan-kawan dalam Peringatan Hari Persandian RI ke-61 di rumah saya yang sederhana ini. Alasan saya menyelenggarakan peringatan ini adalah atas anjuran senior kita, Ascanio, yang saat ini telah menjabat sebagai direktur keamanan informasi di Badan Kerjasama Indonesia - Eropa.

Agar peringatan kita ini bermanfaat dengan memberikan sedikit sumbangan pikiran untuk kemajuan Persandian RI kita tercinta ini, maka dicetuskanlah acara dialog informal tentang pendidikan dan sertifikasi lanjutan bagi Kriptografer.

Seperti dirasakan bersama, ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi berkembang sangat pesat dalam hitungan waktu yang semakin singkat, sehingga mau tidak mau, ilmu yang pernah kita dapatkan menjadi cepat usang. Walaupun kita senantiasa belajar secara mandiri melalui berbagai literatur dan kasus demi kasus dalam pekerjaan kita, namun dalam lingkungan Kepegawaian di negeri kita, pendidikan dan sertifikasi keahlian yang bersifat formal masih diperlukan.

Untuk itu saya undang untuk berbicara, kawan kita, Tiberino, yang saat ini menjabat Direktur Pendidikan dan Pelatihan di Instituto Chiptografia. -antz-

Friday, March 30, 2007

Jam tangan bergambar Deng Xiao Ping


Ketika saya sedang mencari sebuah tas kecil (di rumah, bukan di pasar) yang kira-kira bisa dipakai untuk menyimpan dan membawa kabel-kabel, adaptor, pena usb, tustel, harddisk eksternal, dan lampu kecil untuk laptop, tidak sengaja saya temukan kembali sebuah jam tangan peninggalan Deng Xiao Ping yang saya beli dari pasar antik Tian Tan di Beijing tahun 1998. Rupanya jam itu, waktu itu, saya selipkan di saku tas kecil yang saya beli juga di sana.

Jam itu buatan Jepang, masih baik, hanya gelangnya sudah rusak. Dalam bak jam itu ada foto Deng Xiao Ping, tulisan kanji : Deng Xiao Ping Tong Zhi dan bendera China.

Kok bisa kebetulan ya….. abis nulis tentang Deng….. eeee ketemu jam yang bergambar Deng. -antz-

Saturday, March 24, 2007

Belajar dari negara lain

Ketika membuka Kompas online, dibagian kotak KoKi ada sebuah bait yang menggelitik, setelah saya klik, isinya memang hhhmmmm

Ini dia :

Dalam kunjungannya ke Singapura dibulan Nopember 1978, Deng Xiao Ping bertemu dengan Lee Kuan Yew. Kesan Lee : "Tinggi tubuh orang pendek ini hanya 4 kaki, tetapi Deng adalah seorang pemimpin besar".

Lee menyediakan sebuah PISPOT (tempat meludah dimana budaya jorok orang China kuno masih dianut oleh kebanyakan pemimpin China ketika itu) dan sebuah ASBAK (kebiasaan buruk merokok ditempat umum) didepan kursi Deng. Demikian pula pada resepsi makan malam bersama, Lee menyediakan juga Pispot dan Asbak. Yang mengejutkan, selama kunjungan itu Deng sama sekali tidak meludah maupun merokok, setidaknya didepan Lee dan para pembesar Singapura padahal Deng adalah perokok berat.

Kata Deng : "Ketika aku singgah di Singapura dalam perjalananku menuju Marseilles (Perancis) ditahun 1920 - Singapura adalah tempat kumuh. Anda telah mengubahnya menjadi indah seperti sekarang. Selamat !"

Jawab Lee : "Terima kasih. Apa yang kami bisa lakukan, kalian akan mampu lakukan lebih baik. Kami adalah keturunan imigran melarat dari China Selatan. Tetapi kalian memiliki para mandarin (birokrat), penulis, pemikir dan orang-orang berotak cemerlang. Kalian bisa melakukannya lebih baik".

Deng termenung memandang Lee tanpa berkata sepatahpun.

Namun dalam perjalanan keliling di propinsi China Selatan, Deng tidak sungkan atau malu, selalu berseru kepada rakyat China :
"BELAJARLAH DARI SINGAPURA !", "LAKUKANLAH LEBIH BAIK DARI MEREKA !".

(The personal Lee, Interview Time Asia)

Zev, saya mencuplik bagian ini untuk arsip di blog saya ya. Terima kasih.

Waktu saya datang ke kota Beijing, Cina di bulan Desember 1995, sesampai di bandara internasional kota itu, bandara tersebut masih jelek dan orang asing yang tidak bisa baca tulisan kanji bisa-bisa tersesat di dalam bandara.

Situasi kota Beijing masih seperti Kota Bandung tahun 1980-an. Jalan rayanya sudah lebar-lebar bahkan ada yang 10 jalur, namun sepi dari mobil yang lewat. Sesekali terlihat mobil mewah Mercedes S-600 milik petinggi partai melintas. Rambu-rambu lalu-lintas di jalan sulit ditemukan yang bertuliskan latin, hampir semuanya kanji. Sehingga orang asing yang tidak bisa membaca huruf kanji tentu bakal tersesat.

Sepeda model tahun 70-an masih sangat banyak dan juga gerobak yang ditarik keledai besar untuk mengangkut bahan pertanian.

Pada saat itu, mencari apartemen yang layak sangatlah sulit dan harga sewanya sangat mahal. Sehingga terpaksa mencari apartemen penduduk yang saat itu masih dilarang untuk disewakan ke orang asing. Saat itu masih dibedakan fasilitas untuk penduduk setempat dengan fasilitas untuk orang asing. Seperti KA, bioskop, apartemen, hotel, tempat konkow dll dengan harga 2 atau 3 kali lipat lebih mahal.

Berinteraksi dengan penduduk setempatpun harus menggunakan bahasa Mandarin, bahasa Inggris tidak dapat dipakai untuk berinteraksi dengan mereka.

Di samping kantor yang lama, sebelum dipindahkan yaitu di San Li Tun Da Jie ada pasar senggol disisi kanan jalan (sekarang pasar senggol itu telah dipindah) dan disisi kiri nya deretan café yang mulai marak bermunculan sekitar awal tahun 1997. Pasar senggol itu layaknya sebuah factory outlet di Bandung, barang bermerek terkenal mudah dijumpai, walaupun keasliannya tidak dijamin.

Tahun 1998 terjadi booming apartemen, sehingga saya dan keluarga bisa pindah dari apartemen penduduk yang apa adanya, ke apartemen yang layak, karena harga sewanya sudah dapat dijangkau.

Saat saya meninggalkan kota Beijing, di pertengahan tahun 2000, kota itu telah jauuuhhh berubah dari saat saya pertama kali menginjakkan kaki di situ. Jalanan sudah mulai macet karena jumlah kendaraan bermotor telah semakin banyak, bandara telah modern dan sangat bagus, gedung-gedung tinggi telah banyak dibangun dan penduduk setempat telah mulai mengenal huruf latin. Rambu lalulintas pun telah ditulis dalam dua tulisan, kanji dan latinnya (pin yin).

Deng Xiao Ping telah memberikan dasar-dasar perubahan China yang spektakuler yang kemudian dilanjutkan oleh Jiang Zhe Min bersama Li Peng (saat itu Presiden dan PM).

Terlepas dari kekuranga mereka, sangat pantas ditiru adalah komitmen para pemimpin itu dalam memajukan negara. Mereka memberi keteladanan yang sangat bagus terhadap apa yang ingin dicapainya.

Dalam kurun waktu itu saya menyaksikan komitmen dan teladan yang baik dari para pemimpin negara dalam memberantas budaya (yang katanya) jorok, mensosialisasikan tulisan latin (buku adalah jendela dunia, bahasa adalah pintunya), memasyarakatkan hidup sehat dan bersih, memberantas korupsi dll. Sehingga saat hari jadi China yang ke-50 (1 Oktober 1999), negara itu telah dikenal sebagai NAGA YANG TELAH BANGUN DARI TIDUR PANJANGNYA.

BELAJARLAH DARI NEGERI CHINA !, LAKUKANLAH LEBIH BAIK DARI MEREKA !, mungkin suatu ketika akan diserukan oleh Presiden RI (entah siapa), sehingga suatu ketika (juga) INDONESIA GEMAH RIPAH LOH JINAWI akan menjadi kenyataan. -antz-

Monday, March 19, 2007

Damai di dunia


Bila ingin damai, bersiaplah untuk berperang !
Bila ingin berperang, bersiaplah untuk damai !
Ingin hidup aman dan tenteram, perkuatlah pertahanan dan keamanan.

Sunday, March 11, 2007

Banyak acara tapi kosong

Many channels but nothing to watch, itulah yang diungkapkan oleh para pengamat TV di dunia. Tentu masih teringat 3 dekade lalu saat saluran TV hanya ada satu, sehingga ketika program acara yang ditawarkan tidak kita sukai maka pilihannya adalah matikan TV.

Kini di era HDTV dan TV flat, saluran TV dari berbagai Perusahaan siaran TV sangat banyak dan beragam. Sehingga pilihan acaranya pun sangat banyak, tidak lagi ditonton atau dimatikan. Namun dari sekian banyak pilihan acara, hampir semuanya bermuara pada acara yang dikemas dengan bentuk hiburan yang “kosong”.

Dan dari hasil rating acara TV, memang acara yang dikemas sebagai hiburan kosong lah yang paling digemari. Siaran Berita yang digemari adalah berita kriminal yang sangat detail atau informasi para selebritis yang sedang dilanda kekacauan hidup atau berita negatif lainnya. Talk Show yang digemari adalah talk show yang tidak serius. Kuiz yang digemari adalah kuiz yang ringan dengan hadiah spektakuler, dan sebagainya

Acara hiburan yang ditampilkan serius seperti konser, acara pendidikan, berita pembangunan atau hal-hal positif, memperoleh rating sangat kecil alias tidak digemari pemirsa.

Mencermati fenomena tersebut, tentunya nasehat Dale Carnegie sangat bermanfaat : “bila anda ingin sukses, langkah pertama adalah matikan TV”. -antz-

Tuesday, March 06, 2007

Satria berkuda



Gambar patung ini mengingatkan saya dengan film Benhur. Film tentang seorang satria jujur melawan satria curang (gaya cerita klasik). Mereka berlomba (atau bertempur ya ?) di lapangan yang disebut Circo Massimo. -antz-

Thursday, February 08, 2007

Keputusan aneh

Brondi, kolega Johan yang bertugas di Valetta baru tiba di Roma untuk liburan selama 4 hari. Brondi adalah temannya satu angkatan saat kuliah dulu, sehingga keluarga Brondi dan keluarga Johan cukup akrab.

Saat makan malam di Hard Rock café Roma, Brondi mengeluh bahwa di kantornya akhir-akhir ini banyak sekali peraturan baru yang aneh-aneh, sehingga bukannya meningkatkan prestasi kerja tetapi malah menimbulkan banyak permasalahan.

Salah satu yang dicontohkan Brondi adalah masalah perubahan jam kerja. Dahulu masuk kerja adalah 8.30, istirahat 12.30 dan pulang 16.30. Namun sekarang semuanya dimundurkan 30 menit. “Tidak apa-apa sih, gak ngaruh !” “Tapi alasannya itu lho yang aneh” begitu cerita Brondi.

Ini alasannya : para pegawai memang datang ke kantor jam 8.30, menulis buku absen, kemudian keluar kantor lagi untuk sarapan dan minum kopi. Mereka baru kembali jam 9.00. Nah dari pada begitu, Direktur HRD berinisiatif untuk memundurkan saja jam kerjanya 30 menit menjadi jam 9.00.

Yang terjadi setelah jam kerja dimundurkan : para pegawai datang ke kantor jam 9.00, kemudian keluar lagi untuk sarapan dan minum kopi, mereka baru kembali jam 9.30.

Apakah melihat hal ini tahun depan Direktur HRD akan memundurkan jam kerja 30 menit lagi ?

Mendengar hal itu Johan senyum-senyum saja, sebab Direktur yang mengambil keputusan aneh bukan monopoli direktur di Valetta saja, di banyak kantor tempat kolega Johan yang lain pun juga ada. Bahkan di Kantor Pusat tak kurang banyaknya keputusan aneh yang diambil.

Keputusan yang mendapat protes keras ataupun hanya ditertawakan saja, walaupun jelas tidak sesuai masih banyak yang tetap dijalankan. Katanya “Pak Menteri sudah tanda tangan, kalau langsung direvisi nanti menurunkan wibawa.” begitulah alasannnya bila ditanya “kok sudah tahu sulit dijalankan, tidak mau direvisi ?” Atau : “Presiden saja bikin keputusan aneh, mosok kita gak boleh.”

Begitulah, apa mau dikata, para pemegang kendali dan para penguasa kantor sudah mengambil keputusan. Kita sebagai pegawai manut saja. Apalagi sudah diberi barikade anda pegawai kelas dua, kami pegawai kelas utama. -antz-