Thursday, July 20, 2006

Pendidikan kripto berkelanjutan

Sesi kedua seminar imajiner menampilkan pembicara Dadang Made Sitanggang, seorang pakar pendidikan kripto di Indonesia yang juga direktur Sekolah Tinggi Kriptologi Bandung. Beliau membawakan tema “Pendidikan kripto berkelanjutan”.

Dalam makalahnya, beliau mengutarakan bahwa tuntutan kompetisi yang sangat tinggi sekarang ini membutuhkan pelatihan dan pendidikan yang berkelanjutan dari para kriptografer di Indonesia. Secara khusus menjadi sangat penting diperhatikan karena profesi kripto merupakan profesi yang tertentu (ceruk yang kecil). Bahkan kemajuan teknologi informatika dan komunikasi, walaupun tidak akan mengeliminir profesi kripto yang lebih tinggi levelnya, dapat menjadi substitusi profesi operator kripto.

Prinsip belajar terus-menerus secara berkelanjutan menjadi kebutuhan mutlak bagi profesional kripto yang ingin terus tetap eksis dalam perubahan akibat kemajuan ilmu dan teknologi informatika dan komputer, terang Dadang.

Lebih lanjut Dadang menjelaskan beberapa prinsip dari pendidikan kripto berkelanjutan yaitu :

1. Peningkatan kompetensi berkelanjutan.
Kompetensi seseorang merupakan kemampuan untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan perkembangan trend yang dari waktu ke waktu terus berkembang.
Bahkan sertifikasi kompetensi seseorang juga perlu diperbarui secara periodik dan senantiasa mengupayakan naik ke jenjang kompetensi yang lebih tinggi. Oleh karenanya pelatihan dan pendidikan seharusnya dilakukan dengan prinsip belajar terus menerus dalam rangka meningkatkan kompetensi secara berkelanjutan.

2. Tidak ada kata terlambat
Belajar di bangku SD dimulai paling cepat pada umur 6 tahun. Tetapi tidak ada batasan 'paling lambat' kapan seseorang mulai belajar. Demikian juga dalam mengikuti pendidikan dan pelatihan kripto. Seringkali kesempatan mengikuti pelatihan dan pendidikan dengan modul tertentu baru bisa terbuka setelah sekian tahun bekerja, karena faktor pemerataan pemberian kesempatan dan sesuai dengan jenjang karier yang dicapai seseorang. Dalam situasi seperti ini memulai belajar dengan mengikuti pelatihan dan pendidikan pada usia berapapun dapat tetap dinikmati dan disyukuri. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Lebih baik terlambat daripada tidak pernah. Never too old to learn.

3. Mengejar kemajuan teknologi
Perkembangan teknologi berjalan dengan percepatan lebih besar dalam beberapa tahun terakhir ini. Kalau terlambat mengikuti perkembangan, bisa jadi akan tidak mampu bersaing dengan orang lain dan berdampak pada menurunnya kinerja dan prestasi. Hanya dengan prinsip belajar berkelanjutan yang terus menerus, ketertinggalan tersebut bisa dikejar. Dan hal demikian juga berarti bahwa tidak bisa seluruh pengetahuan dan teknologi hendak dikuasai sepenuhnya dalam satu masa pembelajaran. Harus dilakukan pembaruan secara berkelanjutan.

4. Belajar aplikatif
Banyak cerita 'miring' mengatakan bahwa mahasiswa yang 'terlalu banyak belajar' umumnya akan jadi 'pemikir tulen' yang hanya terus menerus berpikir tanpa peduli pada hasil pemikirannya. Dan hasilnya hanya pemikiran untuk dipikir kembali.
Tentu saja gaya belajar seperti ini tidak praktis. Dan karenanya diperlukan proses belajar aplikatif yang memadukan pengetahuan dan kepraktisan. Dan karena memadukan keduanya seringkali tidak mudah, tidak heran banyak proses belajar yang hanya menghasilkan 'orang pintar'.
Dalam konteks seperti ini, belajar ketika sudah tidak muda lagi merupakan proses pembelajaran yang lebih efektif. Dan hal demikian banyak ditemukan di program pendidikan kelas eksekutif yang pesertanya sudah banyak berpengalaman di pekerjaan riil. Jadi, belajar ketika 'tidak muda lagi' tidak perlu disesali, bahkan perlu disyukuri.

5. Belajar dengan melakukan
Eksekutif dan profesional sekarang ini tidak 'doyan' dengan pelatihan yang terlalu konseptual teoritis. Kalau mau yang konseptual teoritis, tempat belajarnya di kampus.
Tempat terbaik untuk belajar dengan prinsip belajar dengan melakukan adalah di tempat kerja. Dan itu bisa dilakukan kapanpun juga. Bahkan semakin senior seseorang, maka kesempatan untuk belajar dengan melakukan juga semakin besar.

Sebagai penutup Dadang menyimpulkan bahwa kesemua prinsip belajar terus menerus di atas terbukti lebih efektif diberlakukan di 'tempat belajar' dunia nyata. Terkahir, belajar sambil rekreasi juga memungkinkan berjalannya prinsip belajar terus menerus.

Moderator Romi Sukaryo kemudian mempersilahkan peserta seminar imajiner untuk bertanya. Silahkan ***antz***

2 comments:

Anonymous said...

to... kayaknya gue pernah denger 5 poin itu, tapi dimana yah? (sambil garuk-garuk kepala) hehehe

anyway "gambatte"* bro
*tetap semangaaaat
-fman

Sugianto dan Sitta said...

5 poin itu diambil dari artikel motivasi di Bisnis Indonesia. Dan pastinya di buku-buku motivasi lainnya banyak beredar. Teng Q